Selasa, 16 Mei 2017

Cerpen: Kuserahkan Semuanya Kepada-Mu



Kuserahkan Semuanya Kepada-Mu
Hitam menyelimuti langit yang dilapisi awan mendung di sebuah kota yang amat jauh dari ibukota yaitu Kota Kebumen. Kegelapan menandakan bahwa waktu sudah malam. Namun, bukan berarti segala rezeki, karunia dan nikmat yang diberikan kepada seluruh umat manusia terputus karena waktu malam tiba.
Saat itu, ketika waktu menunjukkan pukul 08.00. Najwa, seorang gadis yang masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) ia merasa resah, sedih, gelisah. Ia merasa bingung, entah kepada siapa ia harus mengadu semua permasalahannya dan mencari solusinya.
“Najwa, kenapa kamu terlihat sedih?” Tanya ibunya.
“Hari ini aku merasa kesal dan bingung bu. Disekolah, aku sulit untuk memahami pembelajaran dari bapak dan ibu guru. Setelah itu, di perjalanan pulang aku juga terjatuh dari sepeda. Saya rasa ini adalah hari kesialanku bu.”
Mendengar respon dari anak kesayangannya itu, ibunya memberikan saran dan motivasi yang positif sebagai penyemangat untuk anaknya. Ibunya menyuruh Najwa agar ia mendekatkan diri kepada Tuhan Sang Pencipta. Dan menyuruhnya untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, dengan cara mematuhi semua yang diperintahkan oleh orang tuanya. Setelah menasehati putrinya, ibunya keluar dari kamarnya dan meninggalkan Najwa sendirian, serta menyuruh putrinya untuk tidur karena hari semakin malam. Sebelum tidur ia meresapi segala sesuatu yang dinasehatkan ibunya. Hingga ia tidak sadar bahwa dirinya sudah tertidur dengan pulas.
Tidak seperti biasanya, waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Namun, Najwa sudah terbangun dari tidurnya. Setelah itu, ia teringat akan kata-kata ibunya. Lalu, ia berusaha meresapi semua nasehat ibunya. Selang beberapa menit, ia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu guna melaksanakan salat tahajud.  Di keheningan dan kesunyian malam ia melaksanakan salat tahajud dengan sepenuh hati. Tidak lupa pula, ia panjatkan semua permintaan dan pengharapan sebagai doa-doanya dan mengadukan semua permasalahannya dan suasana hati yang sedang ia rasakan.
“Ya Allah, Ya Tuhanku. Tuhan seluruh alam. Hari ini hamba merasakan hati yang resah dan gelisah. Hamba merasa semua yang hamba kerjakan tidaklah membuahkan hasil yang sempurna. Walaupun hamba tahu bahwa kesempurnaan hanyalah milikmu. Namun, hamba tetap berharap bahwa segala yang hamba kerjakan mendatangkan hasil yang baik pula. Ya Allah, ampunilah hamba karena hamba telah kufur atas nikmat yang Engkau berikan hari ini. Dan mungkin kegagalan yang selama ini terjadi akibat hamba tidak mematuhi perintah orang tua dan hamba sangat jauh akan diri-Mu. Semoga apa yang aku pikirkan, rasakan, dan kerjakan selalu dalam lindungan dan kekuasaan-Mu.” Ucap Najwa dengan penuh ikhlas dan harap.
Setelah ia mencurahkan segala perasaan hatinya, ia merasa lebih tenang. Akan tetapi, kepala Najwa agak pening. Sehingga ia kembali ke tempat tidurnya untuk tidur lagi. 
Terdengar suara ayam jantan berkokok menandakan bahwa fajar telah menyingsing dari ufuknya. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.30. Dan Najwa sudah kembali bangun dari tidurnya atas bantuan alarm di kamarnya. Selepas itu, ia melaksanakan salat subuh.
Matahari kembali memancarkan sinarnya di bumi ini. Hari ini adalah hari kamis. Tampak begitu cerah tanpa tertutup awan mendung sedikitpun. Rupanya, hari ini Najwa telah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah dan berangkat lebih awal. Tidak seperti biasanya, sebelum ke sekolah ia menunjukkan wajah yang ceria dan penuh semangat. Selain itu, ia juga berpamitan dan mencium tangan kedua orangtuanya.
“Ayah, Ibu, Najwa mau berangkat sekolah dulu ya.” Kata Najwa.
“Tapi nak, kau belum sarapan. Sekarang kau sarapan dulu, ibu sudah siapkan sarapan untukmu.”Sahut ibu.
“Iya nak, nanti kalau kau tidah sarapan terlebih dahulu di sekolah kau akan terasa lemah, letih, dan lesu. Sehingga kau akan sulit menerima materi pelajaran dari bapak dan ibu gurumu nak.” Potong ayahnya.
“Baik ayah, ibu. Kali ini Najwa akan turuti semua perintah ayah dan ibu.”
Setelah itu, mereka semua sarapan bersama. Mereka sangat menikmati waktu sarapan itu. Karena hal ini jarang terjadi, lantaran biasanya Najwa jarang sarapan di rumah. Seusai itu, Najwa berangkat ke sekolah.
“Ayah, Ibu sekarang Najwa mau berangkat sekolah ya.”Ucap Najwa.
“Iya nak, hati-hati nak. Jangan nakal di sekolah ya. Patuhi semua perintah dari bapak dan ibu guru.” Kata ayahnya.
“Siap ayah, ibu. Assalamu’alikum.” Jawab Najwa dengan penuh semangat dan kegembiraan.
“Wa’alikumussalam.” Jawab ayah dan ibunya dengan penuh senang pula.
Najwa pergi ke sekolah menggunakan sepedanya. Setiap kayuhan kakinya, Najwa berharap dan berdoa semoga segala sesuatu yang ia kerjakan mendatangkan hasil yang baik dan positif pula. Setibanya di area parkir sepeda, ia menuju ruang kelas dengan langkah yang optimis bahwa hari ini adalah hari yang baik. Dan berusaha menyakini bahwa tidak ada hari yang buruk, yang ada hanyalah hari dimana ia sedang diuji oleh Allah.
Najwa mengikuti semua pelajaran dengan baik. Ia juga menjalin pertemanan yang akrab dengan kawan-kawannya. Ia merasakan bahwa hari ini adalah hari yang berbeda dari hari sebelumnya. Pasalnya, hari ini ia merasakan ketenangan yang luar biasa sehingga apa yang dipikirkan, dirasakan dapat berjalan dengan baik pula.
“Syifa, tidak terasa ya pelajaran hari ini telah usai. Sepertinya, waktu cepat berlalu.” Kata Najwa kepada salah satu kawannya.
“Iya Najwa, ketika kita menikmati pelajaran maka tidak terasa waktu akan cepat usai.”Sahut Syifa.
Setelah itu, Najwa pulang ke rumah. Setibanya di rumah, ia masuk ke rumah dan memanggil ayah dan ibunya dengan penuh gembira.
“Ayah, Ibu, Najwa pulang.” Kata Najwa.
“Ada apa Najwa, kok kamu pulang-pulang tidak mengucapkan salam dulu. Malahan teriak-teriak.”Sahut ibunya.
“Iya maaf bu, Najwa janji besok tidak akan mengulangi lagi. Sueerr deh. Ayah, ibu hari ini Najwa senang sekali. Tadi di sekolah Najwa mendapatkan nilai seratus dan pelajarannya juga menyenangkan. Selain itu, Najwa berangkat dan pulang sekolah dengan santai dan tenang bu.”Kata Najwa.
“Alkhamdulillah nak. Akhirnya masalahmu bisa terselesaikan juga.” Jawab ayahnya.
“ Iya ayah, ini semua berkat nasehat dan motivasi ibu semalam. Mulai hari ini Najwa berjanji atas nama aku, ayah, dan ibu Najwa akan terus melakukan nasehat ibu.” Sahut Najwa.
Akhirnya, keluarga kecil itu tumbuh menjadi keluarga yang bahagia. Mereka hidup secara harmonis. Dan Najwa seorang anak yang sangat manja bisa berubah menjadi seorang anak yang berkepribadian baik, selalu patuh terhadap perintah orang tua dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.

***sekian***

Cerpen : Gadis Sang Pejuang Bangsa



Gadis Sang Pejuang Bangsa
Anehnya, di tengah terik sinar matahari Najwa seorang gadis yang begitu semangat dalam bekerja merasa kedinginan. Namun, hal tersebut tidak hanya dirasakan oleh Najwa tetapi juga rekan kerja yang lain. Kemudian, salah satu rekan kerja lain melihat suhu AC (Air conditioner).
“Hahaha,,,kawan, lihat!! Ternyata, yang membuat kita semua kedinginan adalah suhu AC ini. Lihat saja, suhunya begitu rendah yaitu -16°C.” Kata Hendra.
“Ouhh ternyataa,,,,ini semua pasti ulah Bobby, si jahil itu.” Sahut Sheila.
“Hahaha……lagian kalian semua terlihat tegang sekali siang ini. Jadi, aku kerjain kalian biar suasananya agak relax.” Sahut Bobby dengan tertawa kegelian lantaran dia berhasil membuat ulah lelucon di kantor.
Suasana tegang sudah berganti menjadi relax dan santai. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Jam dinding menunjukkan pukul 12.00 menandakan waktu istirahat telah tiba. Seusai solat dhuhur berjamaah, Najwa berniat untuk makan siang di luar area kantor. Ketika ia berjalan keluar dari musholla, tiba-tiba ada seorang temannya yang memanggilnya dari arah belakang. Dia adalah Syifa.
“Najwa….???” Panggil temannya dari arah kejauhan.
“Iya Syifa, ada apa?” Jawabku dengan penuh keheranan, lantaran ia merasa bahwa hari ini dia tidak ada janji dengannya.
“Aku ingin makan siang di luar denganmu.” Jawab Syifa.
“Okee,,,baiklah. Mari ikut denganku.”
Setelah itu, mereka mengambil sepeda motor di area parkir, dan menungganginya menuju ke salah satu rumah makan sederhana yang tidak jauh dari arah kantornya. Di tengah perjalanan mereka dikagetkan dengan suatu fenomena yang baru ia lihat.
       “ Syifa, coba lihat anak-anak yang berada di pinggir jalan dekat lampu appil itu.”
“Iya Najwa, di sana terlihat anak-anak yang sangat tidak wajar. Di saat jam sekolah, ia tidak sekolah. Kegiatan mereka hanyalah berkumpul-kumpul saja. Penampilannya terlihat sangat kumuh, dan terlihat seperti orang yang tidak pernah mandi. Tragisnya, sepertinya mereka tidak percaya akan adanya Tuhan. Buktinya mereka tidak pernah melakukan salat lima waktu. Aku juga bingung wa, apakah mereka punya orangtua atau tidak, kok sepertinya mereka tidak pernah pulang ke rumah.” Ucap Najwa.
Tidak terasa, mereka sudah tiba di rumah makan yang mereka tuju. Sembari menunggu makanan yang mereka pesan, Najwa dan Syifa melanjutkan perbincangan mereka tentang fenomena tadi dan berusaha untuk mencari solusinya. Selang beberapa menit, makanan yang mereka pesan datang.
“Najwa, lihat makanan ini tampak begitu lezat.”Kata Syifa.
“Lalu apa masalahnya fa?”Sahut Najwa.
“Begini wa, aku teringat akan anak-anak yang di jalanan tadi. Apakah mereka juga bisa merasakan makanan seperti yang kita makan. Kita kan tahu untuk mendapatkan uang saja, mereka meminta-minta kepada para pengguna jalan khususnya pengendara mobil.”
“Bener juga fa,  kemungkinan hal ini terjadi juga karena minimnya kasih sayang dan perhatian orang tua untuk anak. Dan kurangnya penanaman etika dan norma, sehingga anak-anak tersebut merasa dirinya diberikan kebebasan yang tiada batasnya tanpa adanya aturan sedikitpun.”
Tidak terasa waktu istirahat mereka hampir habis, dan mereka segera meninggalkan rumah makan tersebut. Mereka kembali bekerja dengan penuh semangat juga. Namun, dalam raut muka Najwa terlihat bahwa dirinya masih memikirkan fenomena yang ia lihat di pinggir jalan tadi. Rupanya, ia sedang memikirkan solusi yang terbaik untuk mengatasi fenomena anak-anak tadi.
Dalam benaknya, Najwa berkeinginan untuk membantu dan menyadarkan anak-anak yang berada di jalanan itu. Anak-anak tersebut lebih familiar dipanggil sebagai anak punk. Berbagai rangkaian harapan untuk mengatasi fenomena tersebut dituliskan di selembar kertas putih dengan tinta hitamnya. Dan kertas itu ditempelkannya di dekat tempat tidurnya. Dengan tujuan semua keinginan itu bisa terwujud esok hari.
“Ya Allah, Ya Tuhanku. Semoga hari esok adalah hari yang terbaik untukku sehinggan aku bisa mewujudkan segala keinginan dan harapanku demi anak punk itu. Aamiin.”
Terdengar suara ayam jantan berkokok menandakan hari sudah pagi. Najwa sudah terbangun dari tidurnya dan beranjak pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Selang beberapa menit, ia pergi mandi dan bersiap-siap untuk pergi menemui anak punk yang berada di jalanan. Najwa pergi bersama Syifa. Keduanya optimis bahwa mereka pasti bisa mengubah cara hidup dan cara pandang mereka.
Setibanya di tempat tujuan, mereka langsung menghampiri anak punk tersebut dan berusaha berkomunikasi dengan baik.
“Selamat pagi anak-anak. Perkenankan aku Najwa dan ini temanku Syifa.” Sapa Najwa dengan penuh ceria.
“Pagi juga.” Jawab segelintir anak punk tersebut dengan penuh canggung.
“Kakak boleh ngobrol dengan kalian?” Tanya Syifa.
“Boleh kak.”
Akhirnya mereka saling mengobrol dari hati ke hati dan komunikasinya berjalan dengan baik. Najwa dan Syifa memberikan motivasi dan arahan kepada mereka. Keduanya memberikan dukungan kepada mereka bahwa kalian sebagai anak-anak perlu sebuah pendidikan. Karena pendidikan amatlah penting yang mampu menentukan masa depan kalian. Keduanya juga menganjurkan anak-anak tersebut agar kembali kepada orang tuanya. Karena keberhasilan seseorang juga bergantung pada doa dari orang tuanya. Jadi, masa depan kalian akan berpengaruh pada bagaimana sikap kalian menghormati orang tua.
Najwa dan Syifa memberikan pencerahan kepada anak-anak punk tersebut dengan sepenuh hati hingga anak-anak tersebut tersentuh hatinya. Dan di antara mereka banyak yang melepaskan dirinya dari anak punk dan kembali kepada orang tua mereka. Selain itu, Najwa dan Syifa memberikan arahan kepada orang tua mereka agar selalu memerhatikan anak-anak mereka dengan cara memberikan kasih sayang sehingga anak-anak mereka tidak merasa dikucilkan.
       “Alkhamdulillah fa, fenomena ini bisa kita atasi. Dan semuanya berjalan dengan baik.” Kata Najwa.
       “Iya wa, kita sebagai seorang pemuda harus semangat dan peduli dalam mengurangi bahkan menghilangkan fenomena anak punk.”Jawab Syifa.
Akhirnya, mereka merasa bahagia dan tenang karena usaha mereka membuahkan hasil yang baik. Najwa dan Syifa juga berniat untuk mengatasi fenomena-fenomena yang serupa dengan hal tersebut. Karena mereka berkeyakinan bahwa sebagai seorang pemuda harus semangat dan peduli dalam kemajuan bangsa.

**sekian**

Selasa, 18 April 2017

Media Pembelajaran

Opini: Fenomena Smartphone dalam Lingkungan Keluarga
Oleh: Linda Suci Dwi P.
Di era kontemporer ini banyak sekali problematika kehidupan. Di antaranya yaitu bukan problem financial, melainkan kasih sayang. Minimnya kasih sayang kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat. Krisis kasih sayang ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Orang tua boleh sibuk, asalkan mereka tidak melupakan tugas dan kewajibannya, serta memberikan hak kepada anak. Saat ini kesibukan seseorang tidak bisa dilihat dari banyaknya ia berinteraksi dan melakukan kontak langsung dengan orang lain. Tetapi juga bisa dilihat dari berapa lama ia memegang smartphone. Keuntungan menggunakan smartphone sangatlah banyak. Di sisi lain juga mendatangkan nilai negatif. Karena smartphone dapat mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.
Lingkungan keluarga misalnya. Dalam suatu keluarga kecil terdiri dari ayah, ibu dan anak. Jika kedua orang tua amatlah sibuk dengan smartphonenya, maka anak akan terasingkan. Karena yang dibutuhkan anak bukanlah suatu materi melainkan kasih sayang. Dengan kasih sayang anak akan merasa diperhatikan dan merasa sebagai sesuatu yang sangat berharga untuk orang tuanya. Seharusnya anak sebagai motivasi orang tua dalam bertindak segala hal. Sehingga  orang tua akan bertindak apapun demi anak. Dengan demikian, anak dijadikan prioritas utama bagi orang tua. Bukan smartphone yang dijadikan prioritas yang paling utama. Ini adalah suatu kesalahan besar.
 Jangankan bersenda gurau senyumanpun tidak akan terlihat dari raut wajahnya. Anak yang termasuk dalam kategori ini akan cenderung menyendiri dan kurang bergaul dengan teman-temannya. Jika masalah ini terjadi kepada anak yang masih dalam tahap perkembangan yang pesat, maka akan sangat memengaruhi perkembangan anak untuk meningkatkan minat, bakat, dan potensinya. Tidak jarang pula menjadikan konflik batin anak. Tidak hanya semangat dan motivasi yang menurun, tetapi juga cita-cita anak. Yang dulunya memiliki cita-cita setinggi langit, sekarang harapannya hanya satu yaitu ingin diperhatikan oleh orang tuanya (kasih sayang).

Dengan problematika ini, maka peran seorang pendidik sangat diperlukan. Pendidik sebagai perantara untuk mendekatkan secara langsung antara anak dengan orang tuanya. Berikan motivasi sebagai semangat anak untuk hidup mengembangkan minat, bakat, dan potensinya, serta menggapai cita-citanya. Tidak hanya itu, tetapi juga bekali anak dengan aspek moral, spiritual, dan intellegensi anak. Dan tanamkan pada diri anak bahwa “anggaplah kalian semua bisa menjadi apa yang kalian inginkan”. 

Selasa, 11 April 2017

Lagu untuk Media Pembelajaran

Lagu-Lagu untuk Pembelajaran PAI
Sebagai Guru PAI, kita semua sadar bahwa materi yang diajarkan kepada siswa bersifat abstrak. Dengan demikian diperlukan ide, kreativitas, dan inovasi-inovasi baru, sehingga materi yang kita ajarkan kepada siswa dapat tersampaikan dengan baik. Dan siswa dengan mudah dapat memahaminya. Kesimpulannya, sebagai Guru PAI kita harus mampu mengubah materi yang abstrak itu seolah-olah menjadi materi yang konkret dalam sebuah kehidupan. Berbagai media harus diterapkan dalam pembelajarn ini. Baik media visual, audiovisual, maupun proyeksi. Namun kali ini, saya akan memposting sebuah lagu yang digunakan dalam pembelajaran agar pembelajaran ini tidak membosankan. Banyak lagu yang bisa dibuat untuk media pembelajaran, sesuai dengan selera guru masing-masing, seperti lagu anak-anak, lagu daerah, lagu pop, dll. Berikut ada beberapa lagu yang bisa dijadikan sebagai media pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
Lagu: Kring-Kring Ada Sepeda
Yo, yo, yo, mari kawan
Para akhi dan ukhti
Kita bersama-sama
Tuk jaga wudlu kita
             S, S, S, Suci itu
             Harus Selalu Kita Jaga
Supaya Diri Kita
Selalu Indah dan Bersih
Lagu: Wali-Sayang Lahir Batin
Dengarkanlah kawan
Dirikanlah salat, salat lima waktu
Bukan kewajiban
Tapi sebuah kebutuhan, teruntuk dirimu
Semua ini tuk keselamatan dirimu
Reff:
Subuh dua rakaat, Dhuhur empat rakaat
Ashar empat juga
Maghrib Tiga rakaat, Isya empat rakaat
Sempurnakan salatmu
            Usai salat itu
            Panjatkan doamu
            Dengan penuh harap
            Untuk dirimu ayah dan ibumu

Kembali Ke Reff

Selasa, 21 Maret 2017

Media Pembelajaran

CIRI DAN JENIS MEDIA PEMBELAJARAN
Jenis media pembelajaran sangatlah beraneka ragam. Keberagaman tersebut terus berkembang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan bantuan media, maka akan memudahkan guru dalam mengelola proses pembelajaran. Namun, dalam hal ini perlu ditekankan agar guru mampu memilih media pembelajaran sehingga tidak merugikan guru maupun siswa. Pertimbangan dalam memilih media pembelajaran dapat dikaitkan dengan tujuan instruksional, strategi belajar mengajar, dan sistem evaluasi yang akan dilaksanakan.
Begitu banyaknya jenis media pembelajaran, Abuddin Nata (2009) memegang prinsip yang harus dipertimbangkan dalam memilih media yaitu sebagai berikut:
1.    Kesesuaian dengan tujuan pengajaran
2.    Ketepatan dalam memilih media pengajaran
3.    Objektivitas
4.    Program pengajaran
5.    Sasaran program
6.    Situasi dan kondisi
7.    Kualitas teknik
8.    Efektif dan efisien
Sebelum mengenal dan mengetahui lebih lanjut mengenai jenis-jenis media, alangkah lebih baiknya kita mengetahui terlebih dahulu ciri-ciri media pembelajaran. Menurut Margaret E.Gendler ada 3 ciri media pembelajaran yang digunakan sekolah dalam proses pembelajaran yaitu sebagai berikut:
1.    Fiksatif (Fixitive Property)
Ciri ini menggambarkan kemampuan media untuk merekam, menyimpan, melestarikan dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Dengan ciri ini memungkinkan bahwa rekaman kejadian atau objek dapat ditransportasikan tanpa mengenal waktu (dapat ditunjukkan dan diamati kembali seperti kejadian aslinya).
2.    Manipulasi (Manipulative Property)
Dengan ciri ini media memiliki kemampuan untuk memanipulasi atau mengubah objek. Selain itu, juga dapat mentransformasikan suatu kejadian atau objek. Semua kejadian dapat dipercepat maupun diperlambat. Dengan demikian guru bisa menampilkan bagian-bagian yang penting atau utama dari materi yang akan disampaikan. Contohnya yaitu: kejadian yang berlangsung berhari-hari dapat disajikan dalam waktu 2-3 menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recourding. Dengan demikikan cara ini dapat menghemat waktu. Tidak hanya memanipulasi kecepatan suatu objek, tetapi juga warna, ukuran, serta dapat pula diulang-ulang penyajiannya.
3.    Distributif (Distributive Property)
Distributif dengan objek atau kejadian dapat ditransformasikan melalui ruang secara bersamaan. Informasi dalam format media apapun dapat direproduksi berkali-kali dan siap digunakan secara bersamaan di berbagai tempat (digunakan secara berulang-ulang di suatu tempat). Contohnya: siaran TV atau radio.
Adapun jenis-jenis media pembelajaran yaitu sebagai berikut:
1.    Media Grafis (Visual)
Media grafis adalah suatu penyajian secara visual yang menggunakan titik-titik, garis-garis, gambar-gambar, tulisan-tulisan, atau simbol visual yang lain dengan maksud untuk mengikhtisarkan, menggambarkan, dan merangkum suatu ide, data atau kejadian. Pesan-pesan yang disampaikan dituangkan dalam simbol-simbol komunikasi visual. Dalam penggunaan media ini menekankan pada indra penglihatan. Contohnya: gambar, bagan, grafik, karikatur, kartun, peta datar, dll.
2.    Media Audio
Kaitannya audio sebagai media pembelajaran , yaitu suara-suara ataupun bunyi direkam dengan menggunakan alat perekam suara, kemudian diperdengarkan kembali kepada siswa. Pesan-pesan yang disampaikan dituangkan dalam lambang-lambang auditif. Dalam hal ini, lebih mengutamakan indra pendengaran. Materi pembelajaran yang paling cocok untuk disampaikan dengan media ini yaitu: Sejarah, Pendidikan Kewarganegaraan, Sosiologi, Musik, dll.
3.    Media Proyeksi
Media ini memiliki kemiripan dengan media grafis yaitu sama dalam menyampaikan rangsangan visual, hanya saja media proyeksi disertai dengan rekaman audio. Pesan yang disampaikan diproyeksikan dengan proyektor, film rangkai, mikrofis, video, dll.
4.    Media Cetak
Media cetak yaitu segala jenis barang atau media komunikasi yang dilakukan melalui proses pencetakan yang dapat digunakan sebagai sarana penyampaian pesan atau informasi. Contoh media cetak dalam pembelajaran yaitu majalah, buletin, buku paket, surat kabar, dll. Selain sebagai media pembelajaran media cetak ini juga dapat digunakan sebagai sarana membentuk opini publik.

Sumber Referensi:
Tatang. 2015. Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah. Bandung: Pustaka Setia
Rusdiana & Heryati, Yeti. 2015. Pendidikan Profesi Keguruan. Bandung: Pustaka Setia
Daryanto. 2013. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media
Tim Dosen/Instruktur PKG PAI SD STAINU Kebumen. 2012. Pengembangan Media Pembelajaran PAI Melalui TIK. Kebumen: STAINU Press
Suryanto. 2015. Pengantar Ilmu Komunikasi. Bandung: Pustaka Setia