Selasa, 16 Mei 2017

Cerpen: Kuserahkan Semuanya Kepada-Mu



Kuserahkan Semuanya Kepada-Mu
Hitam menyelimuti langit yang dilapisi awan mendung di sebuah kota yang amat jauh dari ibukota yaitu Kota Kebumen. Kegelapan menandakan bahwa waktu sudah malam. Namun, bukan berarti segala rezeki, karunia dan nikmat yang diberikan kepada seluruh umat manusia terputus karena waktu malam tiba.
Saat itu, ketika waktu menunjukkan pukul 08.00. Najwa, seorang gadis yang masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) ia merasa resah, sedih, gelisah. Ia merasa bingung, entah kepada siapa ia harus mengadu semua permasalahannya dan mencari solusinya.
“Najwa, kenapa kamu terlihat sedih?” Tanya ibunya.
“Hari ini aku merasa kesal dan bingung bu. Disekolah, aku sulit untuk memahami pembelajaran dari bapak dan ibu guru. Setelah itu, di perjalanan pulang aku juga terjatuh dari sepeda. Saya rasa ini adalah hari kesialanku bu.”
Mendengar respon dari anak kesayangannya itu, ibunya memberikan saran dan motivasi yang positif sebagai penyemangat untuk anaknya. Ibunya menyuruh Najwa agar ia mendekatkan diri kepada Tuhan Sang Pencipta. Dan menyuruhnya untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, dengan cara mematuhi semua yang diperintahkan oleh orang tuanya. Setelah menasehati putrinya, ibunya keluar dari kamarnya dan meninggalkan Najwa sendirian, serta menyuruh putrinya untuk tidur karena hari semakin malam. Sebelum tidur ia meresapi segala sesuatu yang dinasehatkan ibunya. Hingga ia tidak sadar bahwa dirinya sudah tertidur dengan pulas.
Tidak seperti biasanya, waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Namun, Najwa sudah terbangun dari tidurnya. Setelah itu, ia teringat akan kata-kata ibunya. Lalu, ia berusaha meresapi semua nasehat ibunya. Selang beberapa menit, ia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu guna melaksanakan salat tahajud.  Di keheningan dan kesunyian malam ia melaksanakan salat tahajud dengan sepenuh hati. Tidak lupa pula, ia panjatkan semua permintaan dan pengharapan sebagai doa-doanya dan mengadukan semua permasalahannya dan suasana hati yang sedang ia rasakan.
“Ya Allah, Ya Tuhanku. Tuhan seluruh alam. Hari ini hamba merasakan hati yang resah dan gelisah. Hamba merasa semua yang hamba kerjakan tidaklah membuahkan hasil yang sempurna. Walaupun hamba tahu bahwa kesempurnaan hanyalah milikmu. Namun, hamba tetap berharap bahwa segala yang hamba kerjakan mendatangkan hasil yang baik pula. Ya Allah, ampunilah hamba karena hamba telah kufur atas nikmat yang Engkau berikan hari ini. Dan mungkin kegagalan yang selama ini terjadi akibat hamba tidak mematuhi perintah orang tua dan hamba sangat jauh akan diri-Mu. Semoga apa yang aku pikirkan, rasakan, dan kerjakan selalu dalam lindungan dan kekuasaan-Mu.” Ucap Najwa dengan penuh ikhlas dan harap.
Setelah ia mencurahkan segala perasaan hatinya, ia merasa lebih tenang. Akan tetapi, kepala Najwa agak pening. Sehingga ia kembali ke tempat tidurnya untuk tidur lagi. 
Terdengar suara ayam jantan berkokok menandakan bahwa fajar telah menyingsing dari ufuknya. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.30. Dan Najwa sudah kembali bangun dari tidurnya atas bantuan alarm di kamarnya. Selepas itu, ia melaksanakan salat subuh.
Matahari kembali memancarkan sinarnya di bumi ini. Hari ini adalah hari kamis. Tampak begitu cerah tanpa tertutup awan mendung sedikitpun. Rupanya, hari ini Najwa telah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah dan berangkat lebih awal. Tidak seperti biasanya, sebelum ke sekolah ia menunjukkan wajah yang ceria dan penuh semangat. Selain itu, ia juga berpamitan dan mencium tangan kedua orangtuanya.
“Ayah, Ibu, Najwa mau berangkat sekolah dulu ya.” Kata Najwa.
“Tapi nak, kau belum sarapan. Sekarang kau sarapan dulu, ibu sudah siapkan sarapan untukmu.”Sahut ibu.
“Iya nak, nanti kalau kau tidah sarapan terlebih dahulu di sekolah kau akan terasa lemah, letih, dan lesu. Sehingga kau akan sulit menerima materi pelajaran dari bapak dan ibu gurumu nak.” Potong ayahnya.
“Baik ayah, ibu. Kali ini Najwa akan turuti semua perintah ayah dan ibu.”
Setelah itu, mereka semua sarapan bersama. Mereka sangat menikmati waktu sarapan itu. Karena hal ini jarang terjadi, lantaran biasanya Najwa jarang sarapan di rumah. Seusai itu, Najwa berangkat ke sekolah.
“Ayah, Ibu sekarang Najwa mau berangkat sekolah ya.”Ucap Najwa.
“Iya nak, hati-hati nak. Jangan nakal di sekolah ya. Patuhi semua perintah dari bapak dan ibu guru.” Kata ayahnya.
“Siap ayah, ibu. Assalamu’alikum.” Jawab Najwa dengan penuh semangat dan kegembiraan.
“Wa’alikumussalam.” Jawab ayah dan ibunya dengan penuh senang pula.
Najwa pergi ke sekolah menggunakan sepedanya. Setiap kayuhan kakinya, Najwa berharap dan berdoa semoga segala sesuatu yang ia kerjakan mendatangkan hasil yang baik dan positif pula. Setibanya di area parkir sepeda, ia menuju ruang kelas dengan langkah yang optimis bahwa hari ini adalah hari yang baik. Dan berusaha menyakini bahwa tidak ada hari yang buruk, yang ada hanyalah hari dimana ia sedang diuji oleh Allah.
Najwa mengikuti semua pelajaran dengan baik. Ia juga menjalin pertemanan yang akrab dengan kawan-kawannya. Ia merasakan bahwa hari ini adalah hari yang berbeda dari hari sebelumnya. Pasalnya, hari ini ia merasakan ketenangan yang luar biasa sehingga apa yang dipikirkan, dirasakan dapat berjalan dengan baik pula.
“Syifa, tidak terasa ya pelajaran hari ini telah usai. Sepertinya, waktu cepat berlalu.” Kata Najwa kepada salah satu kawannya.
“Iya Najwa, ketika kita menikmati pelajaran maka tidak terasa waktu akan cepat usai.”Sahut Syifa.
Setelah itu, Najwa pulang ke rumah. Setibanya di rumah, ia masuk ke rumah dan memanggil ayah dan ibunya dengan penuh gembira.
“Ayah, Ibu, Najwa pulang.” Kata Najwa.
“Ada apa Najwa, kok kamu pulang-pulang tidak mengucapkan salam dulu. Malahan teriak-teriak.”Sahut ibunya.
“Iya maaf bu, Najwa janji besok tidak akan mengulangi lagi. Sueerr deh. Ayah, ibu hari ini Najwa senang sekali. Tadi di sekolah Najwa mendapatkan nilai seratus dan pelajarannya juga menyenangkan. Selain itu, Najwa berangkat dan pulang sekolah dengan santai dan tenang bu.”Kata Najwa.
“Alkhamdulillah nak. Akhirnya masalahmu bisa terselesaikan juga.” Jawab ayahnya.
“ Iya ayah, ini semua berkat nasehat dan motivasi ibu semalam. Mulai hari ini Najwa berjanji atas nama aku, ayah, dan ibu Najwa akan terus melakukan nasehat ibu.” Sahut Najwa.
Akhirnya, keluarga kecil itu tumbuh menjadi keluarga yang bahagia. Mereka hidup secara harmonis. Dan Najwa seorang anak yang sangat manja bisa berubah menjadi seorang anak yang berkepribadian baik, selalu patuh terhadap perintah orang tua dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.

***sekian***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar