Opini: Fenomena Smartphone dalam
Lingkungan Keluarga
Oleh: Linda Suci Dwi P.
Di
era kontemporer ini banyak sekali problematika kehidupan. Di antaranya yaitu
bukan problem financial, melainkan kasih sayang. Minimnya kasih sayang kurang
mendapatkan perhatian dari masyarakat. Krisis kasih sayang ini sangat
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Orang
tua boleh sibuk, asalkan mereka tidak melupakan tugas dan kewajibannya, serta
memberikan hak kepada anak. Saat ini kesibukan seseorang tidak bisa dilihat
dari banyaknya ia berinteraksi dan melakukan kontak langsung dengan orang lain.
Tetapi juga bisa dilihat dari berapa lama ia memegang smartphone.
Keuntungan menggunakan smartphone sangatlah banyak. Di sisi lain juga
mendatangkan nilai negatif. Karena smartphone dapat mendekatkan yang jauh dan
menjauhkan yang dekat.
Lingkungan
keluarga misalnya. Dalam suatu keluarga kecil terdiri dari ayah, ibu dan anak.
Jika kedua orang tua amatlah sibuk dengan smartphonenya, maka anak akan
terasingkan. Karena yang dibutuhkan anak bukanlah suatu materi melainkan kasih
sayang. Dengan kasih sayang anak akan merasa diperhatikan dan merasa sebagai
sesuatu yang sangat berharga untuk orang tuanya. Seharusnya anak sebagai
motivasi orang tua dalam bertindak segala hal. Sehingga orang tua akan bertindak apapun demi
anak. Dengan demikian, anak dijadikan prioritas utama bagi orang tua.
Bukan smartphone yang dijadikan prioritas yang paling utama. Ini adalah suatu
kesalahan besar.
Jangankan bersenda gurau senyumanpun tidak
akan terlihat dari raut wajahnya. Anak yang termasuk dalam kategori ini akan
cenderung menyendiri dan kurang bergaul dengan teman-temannya. Jika masalah ini
terjadi kepada anak yang masih dalam tahap perkembangan yang pesat, maka akan
sangat memengaruhi perkembangan anak untuk meningkatkan minat, bakat, dan
potensinya. Tidak jarang pula menjadikan konflik batin anak. Tidak hanya
semangat dan motivasi yang menurun, tetapi juga cita-cita anak. Yang dulunya
memiliki cita-cita setinggi langit, sekarang harapannya hanya satu yaitu ingin diperhatikan
oleh orang tuanya (kasih sayang).
Dengan
problematika ini, maka peran seorang pendidik sangat diperlukan. Pendidik
sebagai perantara untuk mendekatkan secara langsung antara anak dengan orang
tuanya. Berikan motivasi sebagai semangat anak untuk hidup mengembangkan minat,
bakat, dan potensinya, serta menggapai cita-citanya. Tidak hanya itu, tetapi
juga bekali anak dengan aspek moral, spiritual, dan intellegensi anak. Dan
tanamkan pada diri anak bahwa “anggaplah kalian semua bisa menjadi apa yang kalian
inginkan”.