Selasa, 18 April 2017

Media Pembelajaran

Opini: Fenomena Smartphone dalam Lingkungan Keluarga
Oleh: Linda Suci Dwi P.
Di era kontemporer ini banyak sekali problematika kehidupan. Di antaranya yaitu bukan problem financial, melainkan kasih sayang. Minimnya kasih sayang kurang mendapatkan perhatian dari masyarakat. Krisis kasih sayang ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Orang tua boleh sibuk, asalkan mereka tidak melupakan tugas dan kewajibannya, serta memberikan hak kepada anak. Saat ini kesibukan seseorang tidak bisa dilihat dari banyaknya ia berinteraksi dan melakukan kontak langsung dengan orang lain. Tetapi juga bisa dilihat dari berapa lama ia memegang smartphone. Keuntungan menggunakan smartphone sangatlah banyak. Di sisi lain juga mendatangkan nilai negatif. Karena smartphone dapat mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.
Lingkungan keluarga misalnya. Dalam suatu keluarga kecil terdiri dari ayah, ibu dan anak. Jika kedua orang tua amatlah sibuk dengan smartphonenya, maka anak akan terasingkan. Karena yang dibutuhkan anak bukanlah suatu materi melainkan kasih sayang. Dengan kasih sayang anak akan merasa diperhatikan dan merasa sebagai sesuatu yang sangat berharga untuk orang tuanya. Seharusnya anak sebagai motivasi orang tua dalam bertindak segala hal. Sehingga  orang tua akan bertindak apapun demi anak. Dengan demikian, anak dijadikan prioritas utama bagi orang tua. Bukan smartphone yang dijadikan prioritas yang paling utama. Ini adalah suatu kesalahan besar.
 Jangankan bersenda gurau senyumanpun tidak akan terlihat dari raut wajahnya. Anak yang termasuk dalam kategori ini akan cenderung menyendiri dan kurang bergaul dengan teman-temannya. Jika masalah ini terjadi kepada anak yang masih dalam tahap perkembangan yang pesat, maka akan sangat memengaruhi perkembangan anak untuk meningkatkan minat, bakat, dan potensinya. Tidak jarang pula menjadikan konflik batin anak. Tidak hanya semangat dan motivasi yang menurun, tetapi juga cita-cita anak. Yang dulunya memiliki cita-cita setinggi langit, sekarang harapannya hanya satu yaitu ingin diperhatikan oleh orang tuanya (kasih sayang).

Dengan problematika ini, maka peran seorang pendidik sangat diperlukan. Pendidik sebagai perantara untuk mendekatkan secara langsung antara anak dengan orang tuanya. Berikan motivasi sebagai semangat anak untuk hidup mengembangkan minat, bakat, dan potensinya, serta menggapai cita-citanya. Tidak hanya itu, tetapi juga bekali anak dengan aspek moral, spiritual, dan intellegensi anak. Dan tanamkan pada diri anak bahwa “anggaplah kalian semua bisa menjadi apa yang kalian inginkan”. 

Selasa, 11 April 2017

Lagu untuk Media Pembelajaran

Lagu-Lagu untuk Pembelajaran PAI
Sebagai Guru PAI, kita semua sadar bahwa materi yang diajarkan kepada siswa bersifat abstrak. Dengan demikian diperlukan ide, kreativitas, dan inovasi-inovasi baru, sehingga materi yang kita ajarkan kepada siswa dapat tersampaikan dengan baik. Dan siswa dengan mudah dapat memahaminya. Kesimpulannya, sebagai Guru PAI kita harus mampu mengubah materi yang abstrak itu seolah-olah menjadi materi yang konkret dalam sebuah kehidupan. Berbagai media harus diterapkan dalam pembelajarn ini. Baik media visual, audiovisual, maupun proyeksi. Namun kali ini, saya akan memposting sebuah lagu yang digunakan dalam pembelajaran agar pembelajaran ini tidak membosankan. Banyak lagu yang bisa dibuat untuk media pembelajaran, sesuai dengan selera guru masing-masing, seperti lagu anak-anak, lagu daerah, lagu pop, dll. Berikut ada beberapa lagu yang bisa dijadikan sebagai media pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
Lagu: Kring-Kring Ada Sepeda
Yo, yo, yo, mari kawan
Para akhi dan ukhti
Kita bersama-sama
Tuk jaga wudlu kita
             S, S, S, Suci itu
             Harus Selalu Kita Jaga
Supaya Diri Kita
Selalu Indah dan Bersih
Lagu: Wali-Sayang Lahir Batin
Dengarkanlah kawan
Dirikanlah salat, salat lima waktu
Bukan kewajiban
Tapi sebuah kebutuhan, teruntuk dirimu
Semua ini tuk keselamatan dirimu
Reff:
Subuh dua rakaat, Dhuhur empat rakaat
Ashar empat juga
Maghrib Tiga rakaat, Isya empat rakaat
Sempurnakan salatmu
            Usai salat itu
            Panjatkan doamu
            Dengan penuh harap
            Untuk dirimu ayah dan ibumu

Kembali Ke Reff