Gadis Sang Pejuang
Bangsa
Anehnya, di tengah terik sinar
matahari Najwa seorang gadis yang begitu semangat dalam bekerja merasa
kedinginan. Namun, hal tersebut tidak hanya dirasakan oleh Najwa tetapi juga
rekan kerja yang lain. Kemudian, salah satu rekan kerja lain melihat suhu AC (Air
conditioner).
“Hahaha,,,kawan, lihat!! Ternyata,
yang membuat kita semua kedinginan adalah suhu AC ini. Lihat saja, suhunya
begitu rendah yaitu -16°C.” Kata Hendra.
“Ouhh ternyataa,,,,ini semua pasti
ulah Bobby, si jahil itu.” Sahut Sheila.
“Hahaha……lagian kalian semua
terlihat tegang sekali siang ini. Jadi, aku kerjain kalian biar suasananya agak
relax.” Sahut Bobby dengan tertawa kegelian lantaran dia berhasil membuat ulah
lelucon di kantor.
Suasana tegang sudah berganti
menjadi relax dan santai. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Jam dinding
menunjukkan pukul 12.00 menandakan waktu istirahat telah tiba. Seusai solat
dhuhur berjamaah, Najwa berniat untuk makan siang di luar area kantor. Ketika
ia berjalan keluar dari musholla, tiba-tiba ada seorang temannya yang memanggilnya
dari arah belakang. Dia adalah Syifa.
“Najwa….???” Panggil temannya dari
arah kejauhan.
“Iya Syifa, ada apa?” Jawabku
dengan penuh keheranan, lantaran ia merasa bahwa hari ini dia tidak ada janji
dengannya.
“Aku ingin makan siang di luar
denganmu.” Jawab Syifa.
“Okee,,,baiklah. Mari ikut denganku.”
Setelah itu, mereka mengambil sepeda motor di area
parkir, dan menungganginya menuju ke salah satu rumah makan sederhana yang
tidak jauh dari arah kantornya. Di tengah perjalanan mereka dikagetkan dengan
suatu fenomena yang baru ia lihat.
“
Syifa, coba lihat anak-anak yang berada di pinggir jalan dekat lampu appil
itu.”
“Iya Najwa, di sana
terlihat anak-anak yang sangat tidak wajar. Di saat jam sekolah, ia tidak
sekolah. Kegiatan mereka hanyalah berkumpul-kumpul saja. Penampilannya terlihat
sangat kumuh, dan terlihat seperti orang yang tidak pernah mandi. Tragisnya,
sepertinya mereka tidak percaya akan adanya Tuhan. Buktinya mereka tidak pernah
melakukan salat lima waktu. Aku juga bingung wa, apakah mereka punya orangtua
atau tidak, kok sepertinya mereka tidak pernah pulang ke rumah.” Ucap Najwa.
Tidak terasa, mereka
sudah tiba di rumah makan yang mereka tuju. Sembari menunggu makanan yang
mereka pesan, Najwa dan Syifa melanjutkan perbincangan mereka tentang fenomena
tadi dan berusaha untuk mencari solusinya. Selang beberapa menit, makanan yang
mereka pesan datang.
“Najwa, lihat makanan
ini tampak begitu lezat.”Kata Syifa.
“Lalu apa masalahnya
fa?”Sahut Najwa.
“Begini wa, aku
teringat akan anak-anak yang di jalanan tadi. Apakah mereka juga bisa merasakan
makanan seperti yang kita makan. Kita kan tahu untuk mendapatkan uang saja, mereka
meminta-minta kepada para pengguna jalan khususnya pengendara mobil.”
“Bener juga fa, kemungkinan hal ini terjadi juga karena minimnya
kasih sayang dan perhatian orang tua untuk anak. Dan kurangnya penanaman etika
dan norma, sehingga anak-anak tersebut merasa dirinya diberikan kebebasan yang
tiada batasnya tanpa adanya aturan sedikitpun.”
Tidak terasa waktu
istirahat mereka hampir habis, dan mereka segera meninggalkan rumah makan
tersebut. Mereka kembali bekerja dengan penuh semangat juga. Namun, dalam raut
muka Najwa terlihat bahwa dirinya masih memikirkan fenomena yang ia lihat di
pinggir jalan tadi. Rupanya, ia sedang memikirkan solusi yang terbaik untuk
mengatasi fenomena anak-anak tadi.
Dalam benaknya, Najwa berkeinginan untuk
membantu dan menyadarkan anak-anak yang berada di jalanan itu. Anak-anak
tersebut lebih familiar dipanggil sebagai anak punk. Berbagai
rangkaian harapan untuk mengatasi fenomena tersebut dituliskan di selembar
kertas putih dengan tinta hitamnya. Dan kertas itu ditempelkannya di dekat
tempat tidurnya. Dengan tujuan semua keinginan itu bisa terwujud esok hari.
“Ya Allah, Ya Tuhanku.
Semoga hari esok adalah hari yang terbaik untukku sehinggan aku bisa mewujudkan
segala keinginan dan harapanku demi anak punk itu. Aamiin.”
Terdengar suara ayam
jantan berkokok menandakan hari sudah pagi. Najwa sudah terbangun dari tidurnya
dan beranjak pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Selang beberapa
menit, ia pergi mandi dan bersiap-siap untuk pergi menemui anak punk yang
berada di jalanan. Najwa pergi bersama Syifa. Keduanya optimis bahwa mereka
pasti bisa mengubah cara hidup dan cara pandang mereka.
Setibanya di tempat
tujuan, mereka langsung menghampiri anak punk tersebut dan berusaha
berkomunikasi dengan baik.
“Selamat pagi
anak-anak. Perkenankan aku Najwa dan ini temanku Syifa.” Sapa Najwa dengan
penuh ceria.
“Pagi juga.” Jawab
segelintir anak punk tersebut dengan penuh canggung.
“Kakak boleh ngobrol
dengan kalian?” Tanya Syifa.
“Boleh kak.”
Akhirnya mereka saling
mengobrol dari hati ke hati dan komunikasinya berjalan dengan baik. Najwa dan
Syifa memberikan motivasi dan arahan kepada mereka. Keduanya memberikan dukungan
kepada mereka bahwa kalian sebagai anak-anak perlu sebuah pendidikan. Karena
pendidikan amatlah penting yang mampu menentukan masa depan kalian. Keduanya
juga menganjurkan anak-anak tersebut agar kembali kepada orang tuanya. Karena
keberhasilan seseorang juga bergantung pada doa dari orang tuanya. Jadi, masa
depan kalian akan berpengaruh pada bagaimana sikap kalian menghormati orang
tua.
Najwa dan Syifa
memberikan pencerahan kepada anak-anak punk tersebut dengan sepenuh hati hingga
anak-anak tersebut tersentuh hatinya. Dan di antara mereka banyak yang
melepaskan dirinya dari anak punk dan kembali kepada orang tua mereka. Selain
itu, Najwa dan Syifa memberikan arahan kepada orang tua mereka agar selalu
memerhatikan anak-anak mereka dengan cara memberikan kasih sayang sehingga
anak-anak mereka tidak merasa dikucilkan.
“Alkhamdulillah fa, fenomena ini bisa kita atasi. Dan semuanya
berjalan dengan baik.” Kata Najwa.
“Iya wa, kita sebagai seorang pemuda harus semangat dan peduli
dalam mengurangi bahkan menghilangkan fenomena anak punk.”Jawab Syifa.
Akhirnya, mereka merasa
bahagia dan tenang karena usaha mereka membuahkan hasil yang baik. Najwa dan
Syifa juga berniat untuk mengatasi fenomena-fenomena yang serupa dengan hal
tersebut. Karena mereka berkeyakinan bahwa sebagai seorang pemuda harus
semangat dan peduli dalam kemajuan bangsa.
**sekian**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar