Selasa, 16 Mei 2017

Cerpen : Gadis Sang Pejuang Bangsa



Gadis Sang Pejuang Bangsa
Anehnya, di tengah terik sinar matahari Najwa seorang gadis yang begitu semangat dalam bekerja merasa kedinginan. Namun, hal tersebut tidak hanya dirasakan oleh Najwa tetapi juga rekan kerja yang lain. Kemudian, salah satu rekan kerja lain melihat suhu AC (Air conditioner).
“Hahaha,,,kawan, lihat!! Ternyata, yang membuat kita semua kedinginan adalah suhu AC ini. Lihat saja, suhunya begitu rendah yaitu -16°C.” Kata Hendra.
“Ouhh ternyataa,,,,ini semua pasti ulah Bobby, si jahil itu.” Sahut Sheila.
“Hahaha……lagian kalian semua terlihat tegang sekali siang ini. Jadi, aku kerjain kalian biar suasananya agak relax.” Sahut Bobby dengan tertawa kegelian lantaran dia berhasil membuat ulah lelucon di kantor.
Suasana tegang sudah berganti menjadi relax dan santai. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Jam dinding menunjukkan pukul 12.00 menandakan waktu istirahat telah tiba. Seusai solat dhuhur berjamaah, Najwa berniat untuk makan siang di luar area kantor. Ketika ia berjalan keluar dari musholla, tiba-tiba ada seorang temannya yang memanggilnya dari arah belakang. Dia adalah Syifa.
“Najwa….???” Panggil temannya dari arah kejauhan.
“Iya Syifa, ada apa?” Jawabku dengan penuh keheranan, lantaran ia merasa bahwa hari ini dia tidak ada janji dengannya.
“Aku ingin makan siang di luar denganmu.” Jawab Syifa.
“Okee,,,baiklah. Mari ikut denganku.”
Setelah itu, mereka mengambil sepeda motor di area parkir, dan menungganginya menuju ke salah satu rumah makan sederhana yang tidak jauh dari arah kantornya. Di tengah perjalanan mereka dikagetkan dengan suatu fenomena yang baru ia lihat.
       “ Syifa, coba lihat anak-anak yang berada di pinggir jalan dekat lampu appil itu.”
“Iya Najwa, di sana terlihat anak-anak yang sangat tidak wajar. Di saat jam sekolah, ia tidak sekolah. Kegiatan mereka hanyalah berkumpul-kumpul saja. Penampilannya terlihat sangat kumuh, dan terlihat seperti orang yang tidak pernah mandi. Tragisnya, sepertinya mereka tidak percaya akan adanya Tuhan. Buktinya mereka tidak pernah melakukan salat lima waktu. Aku juga bingung wa, apakah mereka punya orangtua atau tidak, kok sepertinya mereka tidak pernah pulang ke rumah.” Ucap Najwa.
Tidak terasa, mereka sudah tiba di rumah makan yang mereka tuju. Sembari menunggu makanan yang mereka pesan, Najwa dan Syifa melanjutkan perbincangan mereka tentang fenomena tadi dan berusaha untuk mencari solusinya. Selang beberapa menit, makanan yang mereka pesan datang.
“Najwa, lihat makanan ini tampak begitu lezat.”Kata Syifa.
“Lalu apa masalahnya fa?”Sahut Najwa.
“Begini wa, aku teringat akan anak-anak yang di jalanan tadi. Apakah mereka juga bisa merasakan makanan seperti yang kita makan. Kita kan tahu untuk mendapatkan uang saja, mereka meminta-minta kepada para pengguna jalan khususnya pengendara mobil.”
“Bener juga fa,  kemungkinan hal ini terjadi juga karena minimnya kasih sayang dan perhatian orang tua untuk anak. Dan kurangnya penanaman etika dan norma, sehingga anak-anak tersebut merasa dirinya diberikan kebebasan yang tiada batasnya tanpa adanya aturan sedikitpun.”
Tidak terasa waktu istirahat mereka hampir habis, dan mereka segera meninggalkan rumah makan tersebut. Mereka kembali bekerja dengan penuh semangat juga. Namun, dalam raut muka Najwa terlihat bahwa dirinya masih memikirkan fenomena yang ia lihat di pinggir jalan tadi. Rupanya, ia sedang memikirkan solusi yang terbaik untuk mengatasi fenomena anak-anak tadi.
Dalam benaknya, Najwa berkeinginan untuk membantu dan menyadarkan anak-anak yang berada di jalanan itu. Anak-anak tersebut lebih familiar dipanggil sebagai anak punk. Berbagai rangkaian harapan untuk mengatasi fenomena tersebut dituliskan di selembar kertas putih dengan tinta hitamnya. Dan kertas itu ditempelkannya di dekat tempat tidurnya. Dengan tujuan semua keinginan itu bisa terwujud esok hari.
“Ya Allah, Ya Tuhanku. Semoga hari esok adalah hari yang terbaik untukku sehinggan aku bisa mewujudkan segala keinginan dan harapanku demi anak punk itu. Aamiin.”
Terdengar suara ayam jantan berkokok menandakan hari sudah pagi. Najwa sudah terbangun dari tidurnya dan beranjak pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Selang beberapa menit, ia pergi mandi dan bersiap-siap untuk pergi menemui anak punk yang berada di jalanan. Najwa pergi bersama Syifa. Keduanya optimis bahwa mereka pasti bisa mengubah cara hidup dan cara pandang mereka.
Setibanya di tempat tujuan, mereka langsung menghampiri anak punk tersebut dan berusaha berkomunikasi dengan baik.
“Selamat pagi anak-anak. Perkenankan aku Najwa dan ini temanku Syifa.” Sapa Najwa dengan penuh ceria.
“Pagi juga.” Jawab segelintir anak punk tersebut dengan penuh canggung.
“Kakak boleh ngobrol dengan kalian?” Tanya Syifa.
“Boleh kak.”
Akhirnya mereka saling mengobrol dari hati ke hati dan komunikasinya berjalan dengan baik. Najwa dan Syifa memberikan motivasi dan arahan kepada mereka. Keduanya memberikan dukungan kepada mereka bahwa kalian sebagai anak-anak perlu sebuah pendidikan. Karena pendidikan amatlah penting yang mampu menentukan masa depan kalian. Keduanya juga menganjurkan anak-anak tersebut agar kembali kepada orang tuanya. Karena keberhasilan seseorang juga bergantung pada doa dari orang tuanya. Jadi, masa depan kalian akan berpengaruh pada bagaimana sikap kalian menghormati orang tua.
Najwa dan Syifa memberikan pencerahan kepada anak-anak punk tersebut dengan sepenuh hati hingga anak-anak tersebut tersentuh hatinya. Dan di antara mereka banyak yang melepaskan dirinya dari anak punk dan kembali kepada orang tua mereka. Selain itu, Najwa dan Syifa memberikan arahan kepada orang tua mereka agar selalu memerhatikan anak-anak mereka dengan cara memberikan kasih sayang sehingga anak-anak mereka tidak merasa dikucilkan.
       “Alkhamdulillah fa, fenomena ini bisa kita atasi. Dan semuanya berjalan dengan baik.” Kata Najwa.
       “Iya wa, kita sebagai seorang pemuda harus semangat dan peduli dalam mengurangi bahkan menghilangkan fenomena anak punk.”Jawab Syifa.
Akhirnya, mereka merasa bahagia dan tenang karena usaha mereka membuahkan hasil yang baik. Najwa dan Syifa juga berniat untuk mengatasi fenomena-fenomena yang serupa dengan hal tersebut. Karena mereka berkeyakinan bahwa sebagai seorang pemuda harus semangat dan peduli dalam kemajuan bangsa.

**sekian**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar