Senin, 06 Februari 2017

Perbedaan Proses Turunnya Wahyu Ketika Zaman Nabi dan Rasul dengan Zaman Sebelum dan Sesudah Nabi Mukhammad saw

Proses turunnya wahyu sebelum nabi Mukhammad saw sebagaimana yang dialami oleh Nabi Musa a.s. yaitu dari balik tabir tanpa melalui perantara (dalam Q.S. Al-A’raf: 143 dan Al Maidah: 164). Menurut pendapat yang paling sah, Allah telah berbicara langsung kepada Rasul kita Mukhammad saw. Pada malam isra’ mi’raj. Yang demikian ini termasuk bagian kedua dari apa yang disebutkan oleh ayat di atas (atau dari balik tabir). Selain itu, juga dialami oleh Nabi Ibrahim. Yaitu melalui mimpinya yang benar yang berisi perintah untuk menyembelih anaknya. Mimpi bagi para nabi yang benar adalah wahyu yang wajib diikuti. (Q.S. As-Safaat: 101-112). Adakalanya wahyu diturunkan tanpa melalui perantara. Namun, ada juga yang melalui perantara. Seperti halnya wahyu dengan perantaraan malaikat wahyu, karena Al Quran diturunkan dengan wahyu semacam ini. Ada ua cara penyampaian wahyu oleh malaikat kepada Rasul: 1. Datang kepadanya suara seperti dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang memengaruhi factor-faktor kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruhnya. Ini merupakan cara yang paling berat untuk Rasul. Apabila wahyu yang diterima dengan cara ini, maka Rasul harus mengumpulkan semua kekuatan kesadarannya untuk menerima, menghafal dan memahaminya. Kemungkinan suara itu adalah kepakan sayap-sayap malaikat. 2. Malaikat menjelma kepada Rasul sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia. Ini adalah cara yang lebih ringan. Karena ada kesesuaian antara pembicara dan pendengar. Rasul sangat senang dengan cara ini karena merasa seperti manusia yang berhadapan dengan saudaranya sendiri. Keadaan Jibril menampakkan diri sebagai seorang laki-laki itu tidaklah mengharuskan ia untuk melepaskan sifat kerohaniannya dan tidak berarti pula bahwa dzatnya telah berubah menjadi seorang laki-laki. Disadur: Nur Kholis, Pengantar Studi Al Quran dan Al Hadis, (Yogyakarta: Teras, 2008), hlm., 12-18. Manna’ Khalil al Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, (Bogor: Litera AntarNusa, 2016), hlm., 46-47.

HAKEKAT MANUSIA

Menurut bahasa hakikat berarti kebenaran atau sesuatu yang sebenar-benarnya atau atas segala sesuatu. Dapat dikatakan bahwa hakikat adalah inti dari segala sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu. Sedangkan manusia adalah makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah swt. Kesempurnaannya ini memiliki konsekuensi yang sangat besar, yaitu sebagai khalifah di muka bumi ini. Dalam Al Quran istilah manusia ditemukan dalam 3 kosa kata yang berbeda dengan substansi yang berbeda tetapi maknanya sama yaitu kata basyar, insan, dan an-nas. Kata Basyar disebutkan sebanyak 37 kali, kata Insan disebutkan sebanyak 65 kali, kata An-Nas sebanyak disebutkan 240 kali. Dapat disimpulkan, Al Quran memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis dan sosial. Basyar dikaitkan dengan makhluk biologis sebagaimana dalam Surat Al Hijr ayat 33 (Berkata iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk”), kata Insan dikaitkan dengan sifat psikologis sebagaimana dalam Surah Al Alaq ayat 5 (Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya) dan An-Nas menunjuk manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Tujuan diciptakan manusia semata-mata untuk menyembah kepada penciptanya yaitu Allah swt. Dalam artian, bukan penyembahan dalam aspek ritual saja tetapi juga tunduk terhadap hukum Allah dalam menjalankan kehidupan di muka bumi, baik menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan maupun dengan sesamanya. Setelah diciptakan, manusia juga memiliki tanggung jawab yang amat besar yaitu sebagai hamba dan khalifah. Sebagai hamba, segala ketaatan, ketundukan dan kepatuhan manusia hanya pantas diberikan kepada Allah swt. “Quu anrusakun waahlikun naran” (jagalah dirimu dan keluargamu dengan iman dari api neraka). Sebagai khalifah, memegang kekuasaan di muka bumi untuk menciptakan kemakmuran dengan mengelola dan menggunakannya sesuai kepentingan secara kreatif dan inovatif. Dan semua kerja keras seorang muslim adalah amal sholeh. Hakikatnya, manusia adalah seorang individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial serta individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati, dan mudah terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya.

Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Berdasarkan UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa anak usia dini adalah kelompok manusia yang berumur 0-6 tahun. Sedangkan menurut para pakar pendidikan anak, menjelaskan bahwa anak usia dini adalah kelompok manusia yang berusia 9-8 tahun. Mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yag unik, dalam arti memiliki pola koordinasi motorik halus dan kasar, intelegensi (daya pikir, daya cipta, kecrdasan emosi, dan kecerdasan spiritual), social emosional (sikap dan perilaku serta agama), dan bahasa dan komunikasi khusus sesuaidengan kemampuan masing-masing. Segala aspek partumbuhan dan perkembangan di atas mampu menjadi dasar pembentukan pribadi yang utuh dan berkualitas. Pendidikan bagi anak usia dini adalah upaya pemberian untuk menstimulasi, membimbing, mengasuh, dan memberikan kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemampuan dan keterampilan anak. Upaya PAUD tidak hanya dari sisi pendidikan saja, tetapi termasuk upaya pemberian gizi dan kesehatan anak sehingga PAUD dikatakan secara terpadu Dn komprehensif. Upaya PAUD harus disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan yang dilalui anak dan PAUD meliputi tindakan yang dilakukan pendidik dan orangtua dalam proses perawatan, pengasahan, serta pemberian pendidikan dan memberikan kesempatan kepadanya untuk mengetahui dan memahami pengalaman belajar yang diperolehnya dari lingkungan, melalui cara mengamati, meniru, dan bereksperimen yang berlangsung secara berulang-ulang dan melibatkan seluruh potensi dan kecerdasan anak, hendaknya pendidik dan orangtua memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi berbagai pengalaman dengan berbagai suasana. Tujuan PAUD yang ingin dicapai adalah untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman orang tua dan guru serta pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan dan perkembangan anak usia dini dan secara khusus tujuan yang ingin dicapai, antara lain: 1. Dapat mengidentifikasi perkembangan fisiologis anak usia dini dan mengaplikasikan hasil idntifikasi tersebut dalam pengembangan fisiologis yang bersangkutan. 2. Dapat memahami perkembangan kreativitas anak usia dini dan usaha-usaha yang terkait dengan perkembangannya 3. Dapat memahami kecerdasan jamak dan kaitannya dengan perkembangan anak usia dini. 4. Dapat memahami arti bermain bagi perkembangan anak usia dini. 5. Dapat memahami pendekatan pembelajaran dan aplikasinya bagi pengembangan anak usia kanak-kanak. Tujuan PAUD secara umum adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tujuammya antara lain: 1. Anak mampu melakukan ibadah, mengenal dan percaya akan ciptaan Tuhan dan mencintai sesame. Contoh: Pendidik mengenalkan anak didik bahwa Allah swt menciptakan berbagai makhluk selain manusia, seperti binatang, tumbuhan, dll. 2. Anak mampu mengelola keterampilan tubuh termasuk gerakan-gerakan yang mengontrol gerakan tubuh, gerakan halus dan gerakan kasar, serta menerima rangsangan sensorik. Contoh: menari, menulis, mewarnai,dll. 3. Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa psif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berpikir dan belajar. Contoh: setelah diberikan tema, anak didik diberi kesempatan untuk bertanya/menjawab isi tema. 4. Anak mampu berpikir logis, kritis, memberikanalasan, memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat. Contoh: mencari pasangan gambar yang berkaitan dengan sebab akibat, lalu anak berusaha memevahkan masalah dan memberikan alasannya. 5. Anak mampu mengenal lingkungan alam, lingkungan social, peranan masyarakat dan menghargai keragaman sosbud, serta mampu mengembangkan konsep diri, sikap positif terhadap belajar, control diri dan rasa memiliki. 6. Anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada, bertepuk tangan, dan menghargai hasil karya yang kreatif. Contoh: anak yang suka dengan musik, ketika mendengarkan lagu maka akan mengikutinya. Beberapa fungsi pendidikan bagi anak usia dini yang harus diperhatikan yaitu: • Untuk mengembangkan seluruh kemampuan yang dimiliki anak sesuai dengan tahapan perkembangannya. • Mengenalkan anak dengan dunia sekitar. • Mengembangkan sosialisasi anak. • Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak. • Memberikan kesempatan pada anak untuk menikmati masa bermainnya. • Memberikan stimulus cultural pada anak. Berikut prinsip pembelajaran pada PAUD, yaitu: 1. Anak Sebagai Pembelajar Aktif Pendidikan yang dirancang secara kreatif akan menghasilkan pembelajar yang aktif. Proses ini sebagai wujud pembelajaran yang bertumpu pada aktivitas belajar anak secara aktif (Student Active Learning/Cara Belajar Siswa Aktif). 2. Anak Belajar Melalui Sensori dan Panca Indra Anak dapat melihat melalui bayanga yang ditangkap oleh matanya, menangkap bunyi melalui telinganya, merasakan panas/dingin lewat perabaannya, membedakan bau mealui hidung , dan mengetahui aneka rasa melalui lidahnya. 3. Anak Membangun Pengetahuan Sendiri Anak dibiarkan belajar melalui pengalaman-pengalaman dan pengetahuan yang dialaminya sejak lahir dan pengetahuan yang didapatkan selama hidup. 4. Anak Berpikir Melalui Benda Konkret Anak dirangsang untuk berpikir dengan metode pembelajaran yang menggunakan benda nyata sebagai contoh-contoh materi pembelajaran. 5. Anak Belajar Dari Lingkungan Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan sengaja dan terencana untuk membantu anak mengembangkan poensi secara optimal sehingga anak mampu beradaptasi dengan lingkungannya.

Hubungan Antara Akhlak dan Tasawwuf

Akhlak merupakan suatu bentuk atau perwujudan dari suatu jiwa yang benar-benar telah meresap dan dari situlah munculnya berbagai macam perbuatan secara spontan dan mudah, tanpa dibuat-buat serta tidak membutuhkan pemikiran atau angan-angan yang panjang. Sedangkan tasawwuf merupakan kehidupan rohani yaitu fitnah manusia dengan tujuan untuk mencapai hakekat yang tinggi, berupa mendekatkan diri kepada Allah dengan jalan mensucikan jiwanya, serta melepaskan jiwanya dari noda-noda atau perbuatan tercela. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tasawwuf adalah ilmunya sedangkan akhlak adalah perwujudan dari amalan tasawwuf yang muncul karena keyakinan dalam hati seseorang. Amalan tasawwuf diformulasikan pada pengaturan sikap mental dan pendisiplinan tingkah laku yang ketat. Dengan kata lain, untuk melalui pensucian jiwa raga yang mencapai tingkat kebahagian manusia harus melalui pensucian jiwa raga yang bermula dari pembentukan pribadi yang bermoral paripurna dan berakhlakul karimah. Jelaslah bahwa formulasi awal amalan tasawwuf adalah pembinaan mental atau berakhlakul karimah. Jadi, akhlak merupakan cerminan dari keadaan jiwa dan sekaligus gerak-gerik, sikap, perilaku atau tindakan manusia, karena memang tak seorangpun yang dapat terlepas dari akhlak. Manusia akan dinilai dan dipandang berakhlak mulia sekiranya jiwa dan tindakannya menunjukkan kepada hal-hal yang baik, dipandang mulia sesuai dengan norma atau kaidah agama berlaku.