Kuserahkan Semuanya Kepada-Mu
Hitam menyelimuti langit yang dilapisi awan mendung
di sebuah kota yang amat jauh dari ibukota yaitu Kota Kebumen. Kegelapan
menandakan bahwa waktu sudah malam. Namun, bukan berarti segala rezeki, karunia
dan nikmat yang diberikan kepada seluruh umat manusia terputus karena waktu
malam tiba.
Saat itu, ketika waktu menunjukkan pukul 08.00.
Najwa, seorang gadis yang masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (MTs) ia
merasa resah, sedih, gelisah. Ia merasa bingung, entah kepada siapa ia harus
mengadu semua permasalahannya dan mencari solusinya.
“Najwa, kenapa kamu terlihat sedih?” Tanya ibunya.
“Hari ini aku merasa kesal dan bingung bu.
Disekolah, aku sulit untuk memahami pembelajaran dari bapak dan ibu guru.
Setelah itu, di perjalanan pulang aku juga terjatuh dari sepeda. Saya rasa ini
adalah hari kesialanku bu.”
Mendengar respon dari anak kesayangannya itu, ibunya
memberikan saran dan motivasi yang positif sebagai penyemangat untuk anaknya.
Ibunya menyuruh Najwa agar ia mendekatkan diri kepada Tuhan Sang Pencipta. Dan
menyuruhnya untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, dengan cara mematuhi
semua yang diperintahkan oleh orang tuanya. Setelah menasehati putrinya, ibunya
keluar dari kamarnya dan meninggalkan Najwa sendirian, serta menyuruh putrinya
untuk tidur karena hari semakin malam. Sebelum tidur ia meresapi segala sesuatu
yang dinasehatkan ibunya. Hingga ia tidak sadar bahwa dirinya sudah tertidur
dengan pulas.
Tidak seperti biasanya, waktu menunjukkan pukul
03.00 dini hari. Namun, Najwa sudah terbangun dari tidurnya. Setelah itu, ia
teringat akan kata-kata ibunya. Lalu, ia berusaha meresapi semua nasehat
ibunya. Selang beberapa menit, ia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil
air wudlu guna melaksanakan salat tahajud.
Di keheningan dan kesunyian malam ia melaksanakan salat tahajud dengan
sepenuh hati. Tidak lupa pula, ia panjatkan semua permintaan dan pengharapan
sebagai doa-doanya dan mengadukan semua permasalahannya dan suasana hati yang
sedang ia rasakan.
“Ya Allah, Ya Tuhanku. Tuhan seluruh alam. Hari ini hamba
merasakan hati yang resah dan gelisah. Hamba merasa semua yang hamba kerjakan
tidaklah membuahkan hasil yang sempurna. Walaupun hamba tahu bahwa kesempurnaan
hanyalah milikmu. Namun, hamba tetap berharap bahwa segala yang hamba kerjakan
mendatangkan hasil yang baik pula. Ya Allah, ampunilah hamba karena hamba telah
kufur atas nikmat yang Engkau berikan hari ini. Dan mungkin kegagalan yang
selama ini terjadi akibat hamba tidak mematuhi perintah orang tua dan hamba
sangat jauh akan diri-Mu. Semoga apa yang aku pikirkan, rasakan, dan kerjakan
selalu dalam lindungan dan kekuasaan-Mu.” Ucap Najwa dengan penuh ikhlas dan
harap.
Setelah ia mencurahkan segala perasaan hatinya, ia
merasa lebih tenang. Akan tetapi, kepala Najwa agak pening. Sehingga ia kembali
ke tempat tidurnya untuk tidur lagi.
Terdengar suara ayam jantan berkokok menandakan
bahwa fajar telah menyingsing dari ufuknya. Waktu sudah menunjukkan pukul
04.30. Dan Najwa sudah kembali bangun dari tidurnya atas bantuan alarm di
kamarnya. Selepas itu, ia melaksanakan salat subuh.
Matahari kembali memancarkan sinarnya di bumi ini.
Hari ini adalah hari kamis. Tampak begitu cerah tanpa tertutup awan mendung
sedikitpun. Rupanya, hari ini Najwa telah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah
dan berangkat lebih awal. Tidak seperti biasanya, sebelum ke sekolah ia
menunjukkan wajah yang ceria dan penuh semangat. Selain itu, ia juga berpamitan
dan mencium tangan kedua orangtuanya.
“Ayah, Ibu, Najwa mau berangkat sekolah dulu ya.”
Kata Najwa.
“Tapi nak, kau belum sarapan. Sekarang kau sarapan
dulu, ibu sudah siapkan sarapan untukmu.”Sahut ibu.
“Iya nak, nanti kalau kau tidah sarapan terlebih
dahulu di sekolah kau akan terasa lemah, letih, dan lesu. Sehingga kau akan
sulit menerima materi pelajaran dari bapak dan ibu gurumu nak.” Potong ayahnya.
“Baik ayah, ibu. Kali ini Najwa akan turuti semua
perintah ayah dan ibu.”
Setelah itu, mereka semua sarapan bersama. Mereka
sangat menikmati waktu sarapan itu. Karena hal ini jarang terjadi, lantaran
biasanya Najwa jarang sarapan di rumah. Seusai itu, Najwa berangkat ke sekolah.
“Ayah, Ibu sekarang Najwa mau berangkat sekolah
ya.”Ucap Najwa.
“Iya nak, hati-hati nak. Jangan nakal di sekolah ya.
Patuhi semua perintah dari bapak dan ibu guru.” Kata ayahnya.
“Siap ayah, ibu. Assalamu’alikum.” Jawab Najwa
dengan penuh semangat dan kegembiraan.
“Wa’alikumussalam.” Jawab ayah dan ibunya dengan
penuh senang pula.
Najwa pergi ke sekolah menggunakan sepedanya. Setiap
kayuhan kakinya, Najwa berharap dan berdoa semoga segala sesuatu yang ia
kerjakan mendatangkan hasil yang baik dan positif pula. Setibanya di area
parkir sepeda, ia menuju ruang kelas dengan langkah yang optimis bahwa hari ini
adalah hari yang baik. Dan berusaha menyakini bahwa tidak ada hari yang buruk,
yang ada hanyalah hari dimana ia sedang diuji oleh Allah.
Najwa mengikuti semua pelajaran dengan baik. Ia juga
menjalin pertemanan yang akrab dengan kawan-kawannya. Ia merasakan bahwa hari
ini adalah hari yang berbeda dari hari sebelumnya. Pasalnya, hari ini ia
merasakan ketenangan yang luar biasa sehingga apa yang dipikirkan, dirasakan
dapat berjalan dengan baik pula.
“Syifa, tidak terasa ya pelajaran hari ini telah
usai. Sepertinya, waktu cepat berlalu.” Kata Najwa kepada salah satu kawannya.
“Iya Najwa, ketika kita menikmati pelajaran maka
tidak terasa waktu akan cepat usai.”Sahut Syifa.
Setelah itu, Najwa pulang ke rumah. Setibanya di
rumah, ia masuk ke rumah dan memanggil ayah dan ibunya dengan penuh gembira.
“Ayah, Ibu, Najwa pulang.” Kata Najwa.
“Ada apa Najwa, kok kamu pulang-pulang tidak
mengucapkan salam dulu. Malahan teriak-teriak.”Sahut ibunya.
“Iya maaf bu, Najwa janji besok tidak akan
mengulangi lagi. Sueerr deh. Ayah, ibu hari ini Najwa senang sekali. Tadi di
sekolah Najwa mendapatkan nilai seratus dan pelajarannya juga menyenangkan.
Selain itu, Najwa berangkat dan pulang sekolah dengan santai dan tenang
bu.”Kata Najwa.
“Alkhamdulillah nak. Akhirnya masalahmu bisa
terselesaikan juga.” Jawab ayahnya.
“ Iya ayah, ini semua berkat nasehat dan motivasi
ibu semalam. Mulai hari ini Najwa berjanji atas nama aku, ayah, dan ibu Najwa
akan terus melakukan nasehat ibu.” Sahut Najwa.
Akhirnya, keluarga kecil itu tumbuh menjadi keluarga
yang bahagia. Mereka hidup secara harmonis. Dan Najwa seorang anak yang sangat
manja bisa berubah menjadi seorang anak yang berkepribadian baik, selalu patuh
terhadap perintah orang tua dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.
***sekian***