Klasifikasi Dan Karakteristik Media Pembelajaran by LindaSucidwi Permatasari on Scribd
Selasa, 28 Maret 2017
Selasa, 21 Maret 2017
Media Pembelajaran
CIRI
DAN JENIS MEDIA PEMBELAJARAN
Jenis media pembelajaran sangatlah beraneka ragam.
Keberagaman tersebut terus berkembang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Dengan bantuan media, maka akan memudahkan guru dalam mengelola
proses pembelajaran. Namun, dalam hal ini perlu ditekankan agar guru mampu
memilih media pembelajaran sehingga tidak merugikan guru maupun siswa.
Pertimbangan dalam memilih media pembelajaran dapat dikaitkan dengan tujuan
instruksional, strategi belajar mengajar, dan sistem evaluasi yang akan
dilaksanakan.
Begitu
banyaknya jenis media pembelajaran, Abuddin Nata (2009) memegang prinsip yang
harus dipertimbangkan dalam memilih media yaitu sebagai berikut:
1. Kesesuaian
dengan tujuan pengajaran
2. Ketepatan
dalam memilih media pengajaran
3. Objektivitas
4. Program
pengajaran
5. Sasaran
program
6. Situasi
dan kondisi
7. Kualitas
teknik
8. Efektif
dan efisien
Sebelum
mengenal dan mengetahui lebih lanjut mengenai jenis-jenis media, alangkah lebih
baiknya kita mengetahui terlebih dahulu ciri-ciri media pembelajaran. Menurut
Margaret E.Gendler ada 3 ciri media pembelajaran yang digunakan sekolah dalam
proses pembelajaran yaitu sebagai berikut:
1. Fiksatif
(Fixitive Property)
Ciri ini menggambarkan kemampuan media
untuk merekam, menyimpan, melestarikan dan merekonstruksi suatu peristiwa atau
objek. Dengan ciri ini memungkinkan bahwa rekaman kejadian atau objek dapat
ditransportasikan tanpa mengenal waktu (dapat ditunjukkan dan diamati kembali
seperti kejadian aslinya).
2. Manipulasi
(Manipulative Property)
Dengan ciri ini media memiliki kemampuan
untuk memanipulasi atau mengubah objek. Selain itu, juga dapat
mentransformasikan suatu kejadian atau objek. Semua kejadian dapat dipercepat
maupun diperlambat. Dengan demikian guru bisa menampilkan bagian-bagian yang penting
atau utama dari materi yang akan disampaikan. Contohnya yaitu: kejadian yang
berlangsung berhari-hari dapat disajikan dalam waktu 2-3 menit dengan teknik
pengambilan gambar time-lapse recourding. Dengan demikikan cara ini
dapat menghemat waktu. Tidak hanya memanipulasi kecepatan suatu objek, tetapi
juga warna, ukuran, serta dapat pula diulang-ulang penyajiannya.
3. Distributif
(Distributive Property)
Distributif dengan objek atau kejadian
dapat ditransformasikan melalui ruang secara bersamaan. Informasi dalam format
media apapun dapat direproduksi berkali-kali dan siap digunakan secara
bersamaan di berbagai tempat (digunakan secara berulang-ulang di suatu tempat).
Contohnya: siaran TV atau radio.
Adapun jenis-jenis media pembelajaran yaitu sebagai
berikut:
1. Media
Grafis (Visual)
Media grafis adalah suatu penyajian
secara visual yang menggunakan titik-titik, garis-garis, gambar-gambar,
tulisan-tulisan, atau simbol visual yang lain dengan maksud untuk mengikhtisarkan,
menggambarkan, dan merangkum suatu ide, data atau kejadian. Pesan-pesan yang
disampaikan dituangkan dalam simbol-simbol komunikasi visual. Dalam penggunaan
media ini menekankan pada indra penglihatan. Contohnya: gambar, bagan, grafik,
karikatur, kartun, peta datar, dll.
2. Media
Audio
Kaitannya audio sebagai media
pembelajaran , yaitu suara-suara ataupun bunyi direkam dengan menggunakan alat
perekam suara, kemudian diperdengarkan kembali kepada siswa. Pesan-pesan yang
disampaikan dituangkan dalam lambang-lambang auditif. Dalam hal ini, lebih
mengutamakan indra pendengaran. Materi pembelajaran yang paling cocok untuk
disampaikan dengan media ini yaitu: Sejarah, Pendidikan Kewarganegaraan,
Sosiologi, Musik, dll.
3. Media
Proyeksi
Media ini memiliki kemiripan dengan
media grafis yaitu sama dalam menyampaikan rangsangan visual, hanya saja media
proyeksi disertai dengan rekaman audio. Pesan yang disampaikan diproyeksikan
dengan proyektor, film rangkai, mikrofis, video, dll.
4. Media
Cetak
Media cetak yaitu segala jenis barang
atau media komunikasi yang dilakukan melalui proses pencetakan yang dapat
digunakan sebagai sarana penyampaian pesan atau informasi. Contoh media cetak
dalam pembelajaran yaitu majalah, buletin, buku paket, surat kabar, dll. Selain
sebagai media pembelajaran media cetak ini juga dapat digunakan sebagai sarana
membentuk opini publik.
Sumber Referensi:
Tatang. 2015. Manajemen
Pendidikan Berbasis Sekolah. Bandung: Pustaka Setia
Rusdiana & Heryati, Yeti. 2015.
Pendidikan Profesi Keguruan. Bandung: Pustaka Setia
Daryanto. 2013. Media
Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media
Tim Dosen/Instruktur PKG PAI SD
STAINU Kebumen. 2012. Pengembangan Media Pembelajaran PAI Melalui TIK. Kebumen:
STAINU Press
Suryanto. 2015. Pengantar Ilmu
Komunikasi. Bandung: Pustaka Setia
Senin, 13 Maret 2017
FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN
FUNGSI
MEDIA PEMBELAJARAN
Selayaknya
media tidak hanya dipandang sebagai alat bantu penyalur pesan dari pemberi
pesan (guru, penulis buku, produser, dan sebagainya) kepada penerima pesan
(siswa/pelajar). Sebagai pembawa pesan, media tidak hanya digunakan oleh guru
tetapi yang lebih penting lagi dapat pula digunakan oleh siswa. Oleh karena
itu, sebagai penyalur pesan dalam hal-hal tertentu media dapat mewakili guru
menyampaikan informasi secara lebih teliti, jelas, dan menarik. Hal tersebut
dapat terlaksana dengan baik walau tanpa kehadiran guru secara fisik.
Dalam
hal ini media pembelajaran mempunyai beberapa fungsi yang berguna dalam proses
belajar-mengajar. Adapun fungsinya yaitu sebagai berikut:
1. Fungsi
AVA (Audiovisual Aids atau Teaching Aids)
Yaitu memberikan pengalaman yang konkret kepada
siswa. Dengan memperoleh pengalaman yang konkret, siswa dapat menangkap objek
dan peristiwa tertentu secara lebih nyata. Dengan memberikan peletakan
dasar-dasar yang konkret kepada siswa, maka akan muncul inisiatif siswa untuk
berpikir secara lebih realistis. Dengan demikian akan membantu mengurangi
penyakit verbalisme (dalam bentuk kata-kata tertulis maupun lisan belaka).
2. Fungsi
komunikasi, yaitu sebagai perantara komunikasi antara komunikator (guru) dan
komunikan (siswa).
Dengan demikian setelah pesan telah tersampaikan
dengan baik maka akan memberikan berbagai nilai positif, diantaranya: dapat mengatasi
keterbatasan ruang, waktu dan daya indra, seperti objek yang terlalu besar bisa
digantikan dengan realita, gambar, film, dll. Selain itu, apabila komunikator
dapat menyampaikan pesan dengan baik, maka media juga mampu menambah gairah dan
memotivasi belajar siswa. Sehingga siswa akan semangat dalam berlatih dan
belajar.
3. Dengan
keunikan tiap siswa serta lingkungan dan pengalaman yang berbeda, kurikulum dan materi pendidikan
bersifat sama tiap individu, maka guru banyak mengalami kesulitan apabila harus
diatasi sendiri. Persalaman ini dapat diselesaikan dengan media pendidikan yang
bertujuan untuk:
1)
Memberikan
perangsang yang sama
2)
Mempersamakan
pengalaman
3)
Menimbulkan
persepsi yang sama.
4.
Media pendidikan
merupakan bagian integral dari keseluruhan proses kependidikan. Penggunaannya
juga bukan merupakan fungsi tambahan, melainkan fungsi tersendiri sebagai sarana
bantu untuk mewujudkan situasi pendidikan yang lebih efektif dan menciptakan
situasi pendidikan yang diharapkan.
5.
Media pendidikan
berfungsi mempercepat proses tercapainya tujuan pendidikan. Dengan demikian dalam
penggunaannya harus relevan dengan tujuan pendidikan. Bermakna bahwa penggunaan
media harus selalu melihat pada tujuan yang hendak dicapai. Sehingga dalam
kegiatan belajar-mengajar menggunakan media, siswa dapat menangkap tujuan
pendidikan dengan sebaik mungkin. Dengan demikian, akan mempercepat tercapainya
tujuan pendidikan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa media pendidikan mampu
meningkatkan kualitas proses pendidikan.
6.
Dengan menggunakan
media dapat melihat secara cepat suatu proses yang berlangsung secara lambat. Dengan
video, proses perkembangan katak dari telur sampai menjadi katak dapat diamati
hanya dalam waktu beberapa menit. Bunga dari kuncup sampai mekar yang berlangsung
beberapa hari, dengan bantuan film dapat diamati dalam beberapa detik.
7.
Dapat menjangkau
audien yang besar jumlahnya dan mengamati suatu objek secara serempak. Dengan siaran
radio atau televisi ratusan bahkan ribuan mahasiswa dapat mengikuti kuliah yang
disajikan seorang professor dalam waktu yang sama.
8.
Dapat belajar
sesuai dengan kemampuan, minat, dan temponya masing-masing. Dengan modul atau
pengajaran berprogram, siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan, kesempatan,
dan kecepatan masing-masing.
Berbagai
cara yang dilakukan oleh guru agar siswanya dapat menerima dan mengolah
informasi yang diberikan dengan baik. Salah satu caranya yaitu menggunakan
media dalam proses pembelajaran. Perlu diingat bahwa fungsi media dapat
diketahui berdasarkan adanya kelebihan media dan hambatan yang terjadi dalam
pembelajaran. Hambatan-hambatan komunikasi yang mungkin terjadi dalam proses
pembelajaran yaitu verbalisme (siswa dapat menyebutkan kata tetapi tidak
mengetahui artinya), salah tafsir (istilah atau kata yang sama diartikan
berbeda oleh siswa), perhatian tidak berpusat (tidak terjadi pemahaman terhadap
suatu informasi dan tidak terjadi berpikir logis). Dengan demikian, guru harus
mampu menyampaikan informasi dan pengetahuan kepada siswanya dengan baik
menggunakan berbagai media. Serta menggunakan metode sebagai prosedur untuk
membantu siswa dalam menerima dan mengolah informasi guna mencapai tujuan
pembelajaran.
Sumber
Referensi:
Arief
S. Sadiman, dkk. 2014. Media Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Tim
Dosen/Instruktur PKG PAI SD STAINU Kebumen. 2012. Pengembangan Media
Pembelajaran PAI Melalui TIK. Kebumen: STAINU Press
Hamdani.
2011. Dasar-Dasar Kependidikan. Bandung: Pustaka Setia
Daryanto.
2013. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media
Senin, 06 Maret 2017
Teori-Teori Media
TEORI-TEORI
MEDIA
Kata
media berasal dari bahasa latin medium yang berarti perantara, pengantar
atau tengah, yang menunjukkan arti tunggal. Sedangkan dalam pengertian jamak
dipakai istilah media. Istilah media digunakan dalam bahasa Inggris dan diserap
ke dalam bahasa Indonesia, dengan makna lain alat komunikasi, perantara, atau
penghubung.
Eksistensi
media dalam kehidupan manusia memiliki ruang lingkup yang sangat luas,
diantaranya media antarpesona (antarpribadi), media massa (pers, film, radio,
dan televisi) serta media interaktif atau media social melalui komputer yang
disebut internet (international connection networking) yaitu jaringan
dari jejaring komputer di seluruh dunia, sebagai hasil perkembangan ilmu dan
teknologi.
Selain
itu, media juga mempunyai batasan yang
sangat luas. Diantaranya yaitu media pendidikan sebagai alat dan bahan
kegiatan pembelajaran. Karena dalam proses belajar mengajar hakekatnya adalah
proses komunikasi, maka sebagai seorang pendidik harus mengetahui terlebih
dahulu konsep abstrak dan konkret dalam pembelajaran sehingga penyampaian pesan
dari pengantar (komunikator) kepada penerima (komunikan) akan tercapai dengan
baik. Seorang pendidik harus mampu memahami karakteristik masing-masing media sehingga
tidak salah dalam memilih media yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.
Dalam
praktek kehidupan, banyak orang mengatakan bahwa praktek itu lebih mudah
daripada teori. Namun, teori itu juga penting. Alangkah lebih baiknya kita
menguasai teori dan berhasil dalam praktek. Seperti halnya media. Secara umum,
media juga memiliki teori. Teori yang kita jadikan landasan sebelum kita
menguasai atau praktek dalam penggunaan media atau lainnya. Adapun teori-teori
media yaitu sebagai berikut:
1. Teori
Perpanjangan Alat Indra (sense extension theory)
Teori
ini diperkenalkan oleh McLuhan, 1964. Dikatakan teori perpanjangan alat indra
karena eksistensi media dalam berkomunikasi tidak lain dari upaya manusia untuk
melakukan perpanjangan dari telinga dan mata, dalam menjawab tantangan alam.
Dengan kata lain, media antarpesona, media massa dan media interaktif atau sosial
pada hakikatnya adalah perpanjangan alat indra manusia. Dalam teori ini
disebutkan bahwa media adalah pesan (the medium is the message).
Artinya, medium saja sudah menjadi pesan sehingga yang memengaruhi publik,
bukan saja isi pesan yang disalurkan oleh media, tetapi juga jenis media
komunikasi yang digunakan.
2. Teori
Publizistiche Aussage
Dalam
ilmu komunikasi, bahwa bagaimanapun sederhananya sebuah pesan atau pernyataan
kepada publik senantiasa mengandung (publizistiche aussage) yang berisi
suatu kesadaran dan pengaruh. Dengan demikian, setiap pesan atau informasi dan
gagasan yang disampaikan kepada publik, terutama melalui media massa, akan
selalu menimbulkan pengaruh yang luas yang membentuk citra dan opini publik.
3. Teori
Agenda Setting
Teori
ini dikembangkan oleh Maxwell E. Mc Comb dan Donald L.Shaw (1972). Media yang
digunakan sebagai agenda setter dapat membentuk citra dan opini publik
sesuai dengan yang dikehendakinya. Teori ini adalah teori yang mengembangkan
fungsi jaga gerbang (gatekeepers) dari media massa, maka media massa
berperan sebagai agenda setter. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek
yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar
bukan dengan perubahan sikap dan pendapat.
4. Teori
Model Peluru
Teori
ini diperkenalkan oleh Laswell, 1948.
Teori ini menganggap bahwa pengaruh media langsung menembak pemirsa.
Dalam perkembangannya, cara pandang model peluru atau linear ini menghasilkan
model komunikasi massa, atau pengaruh psikologis televisi. Penganut teori ini
percaya bahwa pengaruh media massa dapat secara langsung memengaruhi
pemirsanya, khususnya televisi. Hal ini disebabkan karena kemampuan audio
visual yang dimiliki televisi memungkinkan media tersebut mampu menjadi
pengendali pemikiran khalayak, termasuk membangun opini publik dan
anggapan-anggapan lainnya.
5.
Teori Uses and Gratifications (Kegunaan dan
Kepuasan)
Teori ini
pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (1974). Teori ini
mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan
menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang
aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media
yang paling baik di dalam usaha memenuhi kebutuhannya. Artinya pengguna media
mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.
6.
Teori The Spiral of Silence
Teori the
spiral of silence (spiral keheningan) dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman
(1976), berkaitan dengan pertanyaan bagaimana terbentuknya pendapat umum. Teori
ini menjelaskan bahwa terbentuknya pendapat umum ditentukan oleh suatu proses
saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi, dan
persepsi individu tentang pendapatnya dalam hubungannya dengan pendapat
orang-orang lain dalam masyarakat. Dalam arti kesendirian bahwa individu pada
umumnya mempertahankan sikap atau keyakinan tertentu.
Dengan
demikian, pengajaran akan lebih efektif apabila objek dan kejadian yang menjadi
bahan pengajaran dapat divisualisasikan secara realistik menyerupai keadaan
yang sebenarnya, namun tidaklah berarti bahwa media harus selalu menyerupai
keadaan yang sebenarnya. Sebagai contoh adalah model. Model sekalipun merupakan
gambaran nyata dari objek dalam bentuk tiga dimensi tidak dapat dikatakan realistik
sepenuhnya. Sengguhpun demikian model sebagai media pengajaran dapat memberi
makna terhadap isi pesan dari keadaan yang sebenarnya.
Atas
dasar teori tersebut, maka penggunaan media dalam pengajaran mempunyai
kontribusi tinggi terhadap kualitas pengajaran. Sedangkan secara teoritis
kualitas pengajaran akan memengaruhi kualitas hasil belajar yang dicapai oleh
peserta didik.
Sumber
Referensi:
- Agustina Zubair, dkk. 2011. Media dan Komunikasi Politik. Jakarta:Pusat Studi Komunikasi dan Bisnis Program Pasca Sarjana Universitas Mercu Buana
- Daryanto. 2013. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Penerbit Gava Media
- Nana Sudjana & Ahmad Rivai. 2010. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo
- http://www.Teori-teoriMedia_QOECHIL’sQUOTES
Langganan:
Postingan (Atom)