Selasa, 21 Maret 2017

Media Pembelajaran

CIRI DAN JENIS MEDIA PEMBELAJARAN
Jenis media pembelajaran sangatlah beraneka ragam. Keberagaman tersebut terus berkembang sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan bantuan media, maka akan memudahkan guru dalam mengelola proses pembelajaran. Namun, dalam hal ini perlu ditekankan agar guru mampu memilih media pembelajaran sehingga tidak merugikan guru maupun siswa. Pertimbangan dalam memilih media pembelajaran dapat dikaitkan dengan tujuan instruksional, strategi belajar mengajar, dan sistem evaluasi yang akan dilaksanakan.
Begitu banyaknya jenis media pembelajaran, Abuddin Nata (2009) memegang prinsip yang harus dipertimbangkan dalam memilih media yaitu sebagai berikut:
1.    Kesesuaian dengan tujuan pengajaran
2.    Ketepatan dalam memilih media pengajaran
3.    Objektivitas
4.    Program pengajaran
5.    Sasaran program
6.    Situasi dan kondisi
7.    Kualitas teknik
8.    Efektif dan efisien
Sebelum mengenal dan mengetahui lebih lanjut mengenai jenis-jenis media, alangkah lebih baiknya kita mengetahui terlebih dahulu ciri-ciri media pembelajaran. Menurut Margaret E.Gendler ada 3 ciri media pembelajaran yang digunakan sekolah dalam proses pembelajaran yaitu sebagai berikut:
1.    Fiksatif (Fixitive Property)
Ciri ini menggambarkan kemampuan media untuk merekam, menyimpan, melestarikan dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Dengan ciri ini memungkinkan bahwa rekaman kejadian atau objek dapat ditransportasikan tanpa mengenal waktu (dapat ditunjukkan dan diamati kembali seperti kejadian aslinya).
2.    Manipulasi (Manipulative Property)
Dengan ciri ini media memiliki kemampuan untuk memanipulasi atau mengubah objek. Selain itu, juga dapat mentransformasikan suatu kejadian atau objek. Semua kejadian dapat dipercepat maupun diperlambat. Dengan demikian guru bisa menampilkan bagian-bagian yang penting atau utama dari materi yang akan disampaikan. Contohnya yaitu: kejadian yang berlangsung berhari-hari dapat disajikan dalam waktu 2-3 menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recourding. Dengan demikikan cara ini dapat menghemat waktu. Tidak hanya memanipulasi kecepatan suatu objek, tetapi juga warna, ukuran, serta dapat pula diulang-ulang penyajiannya.
3.    Distributif (Distributive Property)
Distributif dengan objek atau kejadian dapat ditransformasikan melalui ruang secara bersamaan. Informasi dalam format media apapun dapat direproduksi berkali-kali dan siap digunakan secara bersamaan di berbagai tempat (digunakan secara berulang-ulang di suatu tempat). Contohnya: siaran TV atau radio.
Adapun jenis-jenis media pembelajaran yaitu sebagai berikut:
1.    Media Grafis (Visual)
Media grafis adalah suatu penyajian secara visual yang menggunakan titik-titik, garis-garis, gambar-gambar, tulisan-tulisan, atau simbol visual yang lain dengan maksud untuk mengikhtisarkan, menggambarkan, dan merangkum suatu ide, data atau kejadian. Pesan-pesan yang disampaikan dituangkan dalam simbol-simbol komunikasi visual. Dalam penggunaan media ini menekankan pada indra penglihatan. Contohnya: gambar, bagan, grafik, karikatur, kartun, peta datar, dll.
2.    Media Audio
Kaitannya audio sebagai media pembelajaran , yaitu suara-suara ataupun bunyi direkam dengan menggunakan alat perekam suara, kemudian diperdengarkan kembali kepada siswa. Pesan-pesan yang disampaikan dituangkan dalam lambang-lambang auditif. Dalam hal ini, lebih mengutamakan indra pendengaran. Materi pembelajaran yang paling cocok untuk disampaikan dengan media ini yaitu: Sejarah, Pendidikan Kewarganegaraan, Sosiologi, Musik, dll.
3.    Media Proyeksi
Media ini memiliki kemiripan dengan media grafis yaitu sama dalam menyampaikan rangsangan visual, hanya saja media proyeksi disertai dengan rekaman audio. Pesan yang disampaikan diproyeksikan dengan proyektor, film rangkai, mikrofis, video, dll.
4.    Media Cetak
Media cetak yaitu segala jenis barang atau media komunikasi yang dilakukan melalui proses pencetakan yang dapat digunakan sebagai sarana penyampaian pesan atau informasi. Contoh media cetak dalam pembelajaran yaitu majalah, buletin, buku paket, surat kabar, dll. Selain sebagai media pembelajaran media cetak ini juga dapat digunakan sebagai sarana membentuk opini publik.

Sumber Referensi:
Tatang. 2015. Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah. Bandung: Pustaka Setia
Rusdiana & Heryati, Yeti. 2015. Pendidikan Profesi Keguruan. Bandung: Pustaka Setia
Daryanto. 2013. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media
Tim Dosen/Instruktur PKG PAI SD STAINU Kebumen. 2012. Pengembangan Media Pembelajaran PAI Melalui TIK. Kebumen: STAINU Press
Suryanto. 2015. Pengantar Ilmu Komunikasi. Bandung: Pustaka Setia

Senin, 13 Maret 2017

FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN



FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN
Selayaknya media tidak hanya dipandang sebagai alat bantu penyalur pesan dari pemberi pesan (guru, penulis buku, produser, dan sebagainya) kepada penerima pesan (siswa/pelajar). Sebagai pembawa pesan, media tidak hanya digunakan oleh guru tetapi yang lebih penting lagi dapat pula digunakan oleh siswa. Oleh karena itu, sebagai penyalur pesan dalam hal-hal tertentu media dapat mewakili guru menyampaikan informasi secara lebih teliti, jelas, dan menarik. Hal tersebut dapat terlaksana dengan baik walau tanpa kehadiran guru secara fisik.
Dalam hal ini media pembelajaran mempunyai beberapa fungsi yang berguna dalam proses belajar-mengajar. Adapun fungsinya yaitu sebagai berikut:
1.    Fungsi AVA (Audiovisual Aids atau Teaching Aids)
Yaitu memberikan pengalaman yang konkret kepada siswa. Dengan memperoleh pengalaman yang konkret, siswa dapat menangkap objek dan peristiwa tertentu secara lebih nyata. Dengan memberikan peletakan dasar-dasar yang konkret kepada siswa, maka akan muncul inisiatif siswa untuk berpikir secara lebih realistis. Dengan demikian akan membantu mengurangi penyakit verbalisme (dalam bentuk kata-kata tertulis maupun lisan belaka).
2.    Fungsi komunikasi, yaitu sebagai perantara komunikasi antara komunikator (guru) dan komunikan (siswa).
Dengan demikian setelah pesan telah tersampaikan dengan baik maka akan memberikan berbagai nilai positif, diantaranya: dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra, seperti objek yang terlalu besar bisa digantikan dengan realita, gambar, film, dll. Selain itu, apabila komunikator dapat menyampaikan pesan dengan baik, maka media juga mampu menambah gairah dan memotivasi belajar siswa. Sehingga siswa akan semangat dalam berlatih dan belajar.
3.    Dengan keunikan tiap siswa serta lingkungan dan pengalaman  yang berbeda, kurikulum dan materi pendidikan bersifat sama tiap individu, maka guru banyak mengalami kesulitan apabila harus diatasi sendiri. Persalaman ini dapat diselesaikan dengan media pendidikan yang bertujuan untuk:
1)      Memberikan perangsang yang sama
2)      Mempersamakan pengalaman
3)      Menimbulkan persepsi yang sama.
4.    Media pendidikan merupakan bagian integral dari keseluruhan proses kependidikan. Penggunaannya juga bukan merupakan fungsi tambahan, melainkan fungsi tersendiri sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi pendidikan yang lebih efektif dan menciptakan situasi pendidikan yang diharapkan.
5.    Media pendidikan berfungsi mempercepat proses tercapainya tujuan pendidikan. Dengan demikian dalam penggunaannya harus relevan dengan tujuan pendidikan. Bermakna bahwa penggunaan media harus selalu melihat pada tujuan yang hendak dicapai. Sehingga dalam kegiatan belajar-mengajar menggunakan media, siswa dapat menangkap tujuan pendidikan dengan sebaik mungkin. Dengan demikian, akan mempercepat tercapainya tujuan pendidikan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa media pendidikan mampu meningkatkan kualitas proses pendidikan.
6.    Dengan menggunakan media dapat melihat secara cepat suatu proses yang berlangsung secara lambat. Dengan video, proses perkembangan katak dari telur sampai menjadi katak dapat diamati hanya dalam waktu beberapa menit. Bunga dari kuncup sampai mekar yang berlangsung beberapa hari, dengan bantuan film dapat diamati dalam beberapa detik.
7.    Dapat menjangkau audien yang besar jumlahnya dan mengamati suatu objek secara serempak. Dengan siaran radio atau televisi ratusan bahkan ribuan mahasiswa dapat mengikuti kuliah yang disajikan seorang professor dalam waktu yang sama.
8.    Dapat belajar sesuai dengan kemampuan, minat, dan temponya masing-masing. Dengan modul atau pengajaran berprogram, siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan, kesempatan, dan kecepatan masing-masing.
            Berbagai cara yang dilakukan oleh guru agar siswanya dapat menerima dan mengolah informasi yang diberikan dengan baik. Salah satu caranya yaitu menggunakan media dalam proses pembelajaran. Perlu diingat bahwa fungsi media dapat diketahui berdasarkan adanya kelebihan media dan hambatan yang terjadi dalam pembelajaran. Hambatan-hambatan komunikasi yang mungkin terjadi dalam proses pembelajaran yaitu verbalisme (siswa dapat menyebutkan kata tetapi tidak mengetahui artinya), salah tafsir (istilah atau kata yang sama diartikan berbeda oleh siswa), perhatian tidak berpusat (tidak terjadi pemahaman terhadap suatu informasi dan tidak terjadi berpikir logis). Dengan demikian, guru harus mampu menyampaikan informasi dan pengetahuan kepada siswanya dengan baik menggunakan berbagai media. Serta menggunakan metode sebagai prosedur untuk membantu siswa dalam menerima dan mengolah informasi guna mencapai tujuan pembelajaran.
Sumber Referensi:
Arief S. Sadiman, dkk. 2014. Media Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Tim Dosen/Instruktur PKG PAI SD STAINU Kebumen. 2012. Pengembangan Media Pembelajaran PAI Melalui TIK. Kebumen: STAINU Press
Hamdani. 2011. Dasar-Dasar Kependidikan. Bandung: Pustaka Setia
Daryanto. 2013. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media

Senin, 06 Maret 2017

Teori-Teori Media



TEORI-TEORI MEDIA
Kata media berasal dari bahasa latin medium yang berarti perantara, pengantar atau tengah, yang menunjukkan arti tunggal. Sedangkan dalam pengertian jamak dipakai istilah media. Istilah media digunakan dalam bahasa Inggris dan diserap ke dalam bahasa Indonesia, dengan makna lain alat komunikasi, perantara, atau penghubung.
Eksistensi media dalam kehidupan manusia memiliki ruang lingkup yang sangat luas, diantaranya media antarpesona (antarpribadi), media massa (pers, film, radio, dan televisi) serta media interaktif atau media social melalui komputer yang disebut internet (international connection networking) yaitu jaringan dari jejaring komputer di seluruh dunia, sebagai hasil perkembangan ilmu dan teknologi.
Selain itu, media juga mempunyai batasan yang  sangat luas. Diantaranya yaitu media pendidikan sebagai alat dan bahan kegiatan pembelajaran. Karena dalam proses belajar mengajar hakekatnya adalah proses komunikasi, maka sebagai seorang pendidik harus mengetahui terlebih dahulu konsep abstrak dan konkret dalam pembelajaran sehingga penyampaian pesan dari pengantar (komunikator) kepada penerima (komunikan) akan tercapai dengan baik. Seorang pendidik harus mampu memahami karakteristik masing-masing media sehingga tidak salah dalam memilih media yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.
Dalam praktek kehidupan, banyak orang mengatakan bahwa praktek itu lebih mudah daripada teori. Namun, teori itu juga penting. Alangkah lebih baiknya kita menguasai teori dan berhasil dalam praktek. Seperti halnya media. Secara umum, media juga memiliki teori. Teori yang kita jadikan landasan sebelum kita menguasai atau praktek dalam penggunaan media atau lainnya. Adapun teori-teori media yaitu sebagai berikut:
1.    Teori Perpanjangan Alat Indra (sense extension theory)
Teori ini diperkenalkan oleh McLuhan, 1964. Dikatakan teori perpanjangan alat indra karena eksistensi media dalam berkomunikasi tidak lain dari upaya manusia untuk melakukan perpanjangan dari telinga dan mata, dalam menjawab tantangan alam. Dengan kata lain, media antarpesona, media massa dan media interaktif atau sosial pada hakikatnya adalah perpanjangan alat indra manusia. Dalam teori ini disebutkan bahwa media adalah pesan (the medium is the message). Artinya, medium saja sudah menjadi pesan sehingga yang memengaruhi publik, bukan saja isi pesan yang disalurkan oleh media, tetapi juga jenis media komunikasi yang digunakan.
2.    Teori Publizistiche Aussage
Dalam ilmu komunikasi, bahwa bagaimanapun sederhananya sebuah pesan atau pernyataan kepada publik senantiasa mengandung (publizistiche aussage) yang berisi suatu kesadaran dan pengaruh. Dengan demikian, setiap pesan atau informasi dan gagasan yang disampaikan kepada publik, terutama melalui media massa, akan selalu menimbulkan pengaruh yang luas yang membentuk citra dan opini publik.
3.    Teori Agenda Setting
Teori ini dikembangkan oleh Maxwell E. Mc Comb dan Donald L.Shaw (1972). Media yang digunakan sebagai agenda setter dapat membentuk citra dan opini publik sesuai dengan yang dikehendakinya. Teori ini adalah teori yang mengembangkan fungsi jaga gerbang (gatekeepers) dari media massa, maka media massa berperan sebagai agenda setter. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat.
4.    Teori Model Peluru
Teori ini diperkenalkan oleh Laswell, 1948.  Teori ini menganggap bahwa pengaruh media langsung menembak pemirsa. Dalam perkembangannya, cara pandang model peluru atau linear ini menghasilkan model komunikasi massa, atau pengaruh psikologis televisi. Penganut teori ini percaya bahwa pengaruh media massa dapat secara langsung memengaruhi pemirsanya, khususnya televisi. Hal ini disebabkan karena kemampuan audio visual yang dimiliki televisi memungkinkan media tersebut mampu menjadi pengendali pemikiran khalayak, termasuk membangun opini publik dan anggapan-anggapan lainnya.
5.    Teori Uses and Gratifications (Kegunaan dan Kepuasan)
Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (1974). Teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenuhi kebutuhannya. Artinya pengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.
6.    Teori The Spiral of Silence
Teori the spiral of silence (spiral keheningan) dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman (1976), berkaitan dengan pertanyaan bagaimana terbentuknya pendapat umum. Teori ini menjelaskan bahwa terbentuknya pendapat umum ditentukan oleh suatu proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi, dan persepsi individu tentang pendapatnya dalam hubungannya dengan pendapat orang-orang lain dalam masyarakat. Dalam arti kesendirian bahwa individu pada umumnya mempertahankan sikap atau keyakinan tertentu.
            Dengan demikian, pengajaran akan lebih efektif apabila objek dan kejadian yang menjadi bahan pengajaran dapat divisualisasikan secara realistik menyerupai keadaan yang sebenarnya, namun tidaklah berarti bahwa media harus selalu menyerupai keadaan yang sebenarnya. Sebagai contoh adalah model. Model sekalipun merupakan gambaran nyata dari objek dalam bentuk tiga dimensi tidak dapat dikatakan realistik sepenuhnya. Sengguhpun demikian model sebagai media pengajaran dapat memberi makna terhadap isi pesan dari keadaan yang sebenarnya.
            Atas dasar teori tersebut, maka penggunaan media dalam pengajaran mempunyai kontribusi tinggi terhadap kualitas pengajaran. Sedangkan secara teoritis kualitas pengajaran akan memengaruhi kualitas hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik.
Sumber Referensi:
  1. Agustina Zubair, dkk. 2011. Media dan Komunikasi Politik. Jakarta:Pusat Studi Komunikasi dan Bisnis Program Pasca Sarjana Universitas  Mercu Buana
  2. Daryanto. 2013. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Penerbit Gava  Media
  3. Nana Sudjana & Ahmad Rivai. 2010. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo
  4. http://www.Teori-teoriMedia_QOECHIL’sQUOTES