Sabtu, 20 Februari 2016

         
Handshake Versi Islami

            Jabat tangan atau sering disebut dengan istilah handshake (dalam bahasa Inggris) dan mushofakhah (dalam bahasa Arab) adalah sebuah ritual pendek dimana dua saling menggenggam tangan kanan atau kiri mereka (Wikipedia.com). Sebenarnya, tradisi jabat tangan bukan berasal dari Kota Mekkah maupun Madinah, melainkan berasal dari kota Yaman. Sekelompok orang yang berada di Kota Yaman, menemui Rasulullah dengan melaksanakan kebiasaan jabat tangan dengan kaum muslimin. Budaya ini berarti sudah ada sejak masa Nabi dan telah diakui beliau sebagai sunah atau anjuran agama. Sebagaimana Nabi telah bersabda yang artinya “Kini telah datang penduduk Kota Yaman dan merekalah yang kali pertama datang dengan jabat tangan”.

            Dari Al-Barra R.A ia berkata, Rasulullah saw bersabda “apabila ada dua orang islam yang bertemu kemudian mereka berjabat tangan, maka dosa kedua orang tersebut akan diampuni sebelum keduanya berpisah (melepaskan tangan mereka)”.(H.R. Abu Daud). Nabi juga sebelum tangannya dilepas oleh kawannya pada saat berjabat tangan, beliau belum melepaskannya. Perilaku yang sangat baik. Tetapi, bagaimana hukumnya jika berjabat tangan dengan lawan jenis? Mungkin banyak yang menyanggah kalau tidak berjabat tangan berarti tidak gaul, sok suci, sombong, atau yang lainnya. Namun untuk menjawab pertanyaan itu, kita dapat memegang teguh hadis “al-muhafadzatu ala qadimis shalih wa akhzu bil jadidil ashlah” artinya memelihara tradisi dan nilai lama yang masih baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Dengan hadis ini saya menyimpulkan kalau berjabat tangan dengan lawan jenis diharamkan. Karena bisa menimbulkan berbagai hal, seperti bisa menimbulkan nafsu karena bertemunya kedua telapak kulit secara langsung serta bisa menimbulkan fitnah banyak orang. Budaya tersebut juga belum pernah dilakukan oleh Rasulullah. Itu juga dianggap lebih banyak mendatangkan mudharat (kerugian) daripada manfaatnya. Jika jabat tangan dengan lawan jenis dianggap sebagai simbol perkenalan maupun persahabatan, kita juga bisa melakukannya tanpa berjabat tangan langsung dengan lawan jenis. Ketika kita diajak bersalaman dengan lawan jenis, kita bisa menolaknya dengan cara-cara yang sopan serta santun tanpa melanggar hukum agama.

The Cat

KESAYANGAN KITA PADA HEWAN ENAM HURUF

Apa yang Anda pikirkan ketika medengar kata kucing? Lucu, imut, manis, mungkin itu yang terlintas di pikiran Anda. Kucing  termasuk binatang karnivora, yaitu pemakan daging dan tulang belulang, yang diyakini merupakan keturunan musang yang hidup pada 50 juta tahun silam yang bernama Miacis. Kucing memang memiliki kemiripan dengan musang. Terkadang kucing juga doyan makanan selain daging, seperti tempe, tahu, krupuk, dan lain-lain. Hal tersebut bisa terjadi karena kucing tersebut tinggal di rumahan. Kucing dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu kucing liar dan kucing yang sudah dijinakkan. Kucing liar akan lebih ganas dibandingkan dengan kucing rumahan. Sebaliknya kucing rumahan akan sedikit lebih manja dengan majikannya atau pemiliknya. Kucing juga mempunyai nama ilmiah, nama ilmiahnya yaitu Felis silvestris catus.
Dari Ibnu Umar r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Seorang wanita dimasukkan ke dalam neraka karena seekor kucing yang dia ikat dan tidak diberikan makanam bahkan tidak diperkenankan memakan binatang-binatang kecil yang ada di lantai” (HR. Bukhari). Sungguh sangat kejam wanita itu. Padahal, Nabi telah berkata kepada para sahabatnya bahwa bagi mereka yang menyakiti hewan ini akan mendapatkan hukuman yang sangat serius. Bahkan, Nabi telah berpesan kepada sahabatnya agar menyanyangi kucing seperti menyanyangi keluarganya sendiri. Mueeza, adalah nama kucing kesayangan Nabi. Setiap Nabi menerima tamu di rumahnya, beliau selalu menggendong Mueeza dan diletakkan di pahanya. Hal yang paling disukai Nabi dari Mueeza adalah selalu mengeong ketika mendengar suara adzan seolah-olah menirukan lantunan adzan tersebut.  Tidak hanya Nabi, istrinya yang bernama Aisyah binti Abu Bakar merasa kehilangan ketika ditinggal pergi oleh kucing kesanyangannya. Sungguh sangat sayang dan cinta kepada kucingnya. Selain itu, seorang sahabat yang bernama Abdurrohman bin Sakhr Al Azdi yang juga merupakan ahli hadis mendapat julukan Abu Hurairah atau bapak para kucing jantan,  karena hobinya dalam merawat dan menjaga kucing jantan yang ada di rumahnya.
Nabi menekankan bahwa kucing adalah seekor binatang yang suci. Bahkan diperbolehkan berwudhu menggunakan air bekas minum kucing. Hadist Kabsyah binti Ka’b bin Malik menceritakan bahwa Abu Qatadah, mertua Kabsyah, masuk ke rumahnya lalu ia menuangkan air untuk wudhu. Pada saat itu, datang seekor kucing yang ingin minum. Lantas ia menuangkan air di bejana sampai kucing itu minum. Diriwayatkan dan Ali bin Al-Hasan, dan Anas yang menceritakan bahwa Nabi Saw pergi ke Bathan suatu daerah di Madinah. Lalu, beliau berkata, “Ya Anas, tuangkan air wudhu untukku ke dalam bejana.” Lalu, Anas menuangkan air. Ketika sudah selesai, Nabi menuju bejana. Namun, seekor kucing datang dan menjilati bejana. Melihat itu, Nabi berhenti sampai kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhu.
Sisa makanan kucing adalah suci. Ini akan menjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat. Padahal, Nabi mengatakan bahwa sisa makanan yang telah dimakan kucing boleh dimakan kita, asalkan makanan yang disentuh kucing kita bersihkan dahulu. Bagi masyarakat yang pro pasti akan membuang sisa makanan kucing tersebut, karena dia akan menganggap bahwa kucing akan menimbulkan berbagai macam penyakit, seperti bersin, batuk, pilek, dan lain-lain. Begitu istimewanya kucing bagi Nabi. Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang menerangkan bahwa budaknya memberikan Aisyah semangkuk bubur. Namun, ketika ia sampai di rumah Aisyah, tenyata Aisyah sedang salat. Lalu, ia memberikan isyarat untuk menaruhnya. Sayangnya, setelah Aisyah menyelesaikan shalat, ia lupa ada bubur. Begitu khusuknya beliau ketika salat, sehingga lupa akan makanannya. Terkadang kita sebagai orang awam, saat salat teringat akan hal-hal yang tadinya lupa, seperti makanan, lupa meletakkan uang, dan lain-lain. Datanglah seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut. Ketika ia melihat bubur tersebut dimakan kucing, Aisyah lalu membersihkan bagian yang disentuh kucing, dan Aisyah memakannya.
Menurut Sa’id Rafah, seorang dokter hewan dari Damaskus menegaskan bahwa kucing memiliki perangkat pembersih yang bemama lysozyme. Kucing tidak suka air, karena air merupakan tempat yang sangat subur untuk pertumbuhan bakteri. Terlebih pada genangan air (lumpur, genangan hujan, dll). Kucing juga sangat menjaga kestabilan kehangatan tubuhnya. Kucing juga sering berjemur sambil menjilat-jilat bulunya dan tidak dekat-dekat dengan air. Tujuannya agar bakteri tidak berpindah kepadanya. Inilah yang menjadi faktor tidak adanya kuman di tubuhnya.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan, kita sebagai manusia sebaiknya selalu menjaga binatang-binatang di sekitar kita, terutama kucing. Janganlah sekali-kali menyakitinya. Tidak hanya menjaganya, tetapi juga merawatnya, seperti memandikannya, memberikan tempat untuk hidur, memberikan makanan dan minuman secukupnya, serta merawatnya ketika sakit. Rawatlah kucing seperti kita merawat diri kita sendiri.