Senin, 06 Maret 2017

Teori-Teori Media



TEORI-TEORI MEDIA
Kata media berasal dari bahasa latin medium yang berarti perantara, pengantar atau tengah, yang menunjukkan arti tunggal. Sedangkan dalam pengertian jamak dipakai istilah media. Istilah media digunakan dalam bahasa Inggris dan diserap ke dalam bahasa Indonesia, dengan makna lain alat komunikasi, perantara, atau penghubung.
Eksistensi media dalam kehidupan manusia memiliki ruang lingkup yang sangat luas, diantaranya media antarpesona (antarpribadi), media massa (pers, film, radio, dan televisi) serta media interaktif atau media social melalui komputer yang disebut internet (international connection networking) yaitu jaringan dari jejaring komputer di seluruh dunia, sebagai hasil perkembangan ilmu dan teknologi.
Selain itu, media juga mempunyai batasan yang  sangat luas. Diantaranya yaitu media pendidikan sebagai alat dan bahan kegiatan pembelajaran. Karena dalam proses belajar mengajar hakekatnya adalah proses komunikasi, maka sebagai seorang pendidik harus mengetahui terlebih dahulu konsep abstrak dan konkret dalam pembelajaran sehingga penyampaian pesan dari pengantar (komunikator) kepada penerima (komunikan) akan tercapai dengan baik. Seorang pendidik harus mampu memahami karakteristik masing-masing media sehingga tidak salah dalam memilih media yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.
Dalam praktek kehidupan, banyak orang mengatakan bahwa praktek itu lebih mudah daripada teori. Namun, teori itu juga penting. Alangkah lebih baiknya kita menguasai teori dan berhasil dalam praktek. Seperti halnya media. Secara umum, media juga memiliki teori. Teori yang kita jadikan landasan sebelum kita menguasai atau praktek dalam penggunaan media atau lainnya. Adapun teori-teori media yaitu sebagai berikut:
1.    Teori Perpanjangan Alat Indra (sense extension theory)
Teori ini diperkenalkan oleh McLuhan, 1964. Dikatakan teori perpanjangan alat indra karena eksistensi media dalam berkomunikasi tidak lain dari upaya manusia untuk melakukan perpanjangan dari telinga dan mata, dalam menjawab tantangan alam. Dengan kata lain, media antarpesona, media massa dan media interaktif atau sosial pada hakikatnya adalah perpanjangan alat indra manusia. Dalam teori ini disebutkan bahwa media adalah pesan (the medium is the message). Artinya, medium saja sudah menjadi pesan sehingga yang memengaruhi publik, bukan saja isi pesan yang disalurkan oleh media, tetapi juga jenis media komunikasi yang digunakan.
2.    Teori Publizistiche Aussage
Dalam ilmu komunikasi, bahwa bagaimanapun sederhananya sebuah pesan atau pernyataan kepada publik senantiasa mengandung (publizistiche aussage) yang berisi suatu kesadaran dan pengaruh. Dengan demikian, setiap pesan atau informasi dan gagasan yang disampaikan kepada publik, terutama melalui media massa, akan selalu menimbulkan pengaruh yang luas yang membentuk citra dan opini publik.
3.    Teori Agenda Setting
Teori ini dikembangkan oleh Maxwell E. Mc Comb dan Donald L.Shaw (1972). Media yang digunakan sebagai agenda setter dapat membentuk citra dan opini publik sesuai dengan yang dikehendakinya. Teori ini adalah teori yang mengembangkan fungsi jaga gerbang (gatekeepers) dari media massa, maka media massa berperan sebagai agenda setter. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat.
4.    Teori Model Peluru
Teori ini diperkenalkan oleh Laswell, 1948.  Teori ini menganggap bahwa pengaruh media langsung menembak pemirsa. Dalam perkembangannya, cara pandang model peluru atau linear ini menghasilkan model komunikasi massa, atau pengaruh psikologis televisi. Penganut teori ini percaya bahwa pengaruh media massa dapat secara langsung memengaruhi pemirsanya, khususnya televisi. Hal ini disebabkan karena kemampuan audio visual yang dimiliki televisi memungkinkan media tersebut mampu menjadi pengendali pemikiran khalayak, termasuk membangun opini publik dan anggapan-anggapan lainnya.
5.    Teori Uses and Gratifications (Kegunaan dan Kepuasan)
Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (1974). Teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenuhi kebutuhannya. Artinya pengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.
6.    Teori The Spiral of Silence
Teori the spiral of silence (spiral keheningan) dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman (1976), berkaitan dengan pertanyaan bagaimana terbentuknya pendapat umum. Teori ini menjelaskan bahwa terbentuknya pendapat umum ditentukan oleh suatu proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi, dan persepsi individu tentang pendapatnya dalam hubungannya dengan pendapat orang-orang lain dalam masyarakat. Dalam arti kesendirian bahwa individu pada umumnya mempertahankan sikap atau keyakinan tertentu.
            Dengan demikian, pengajaran akan lebih efektif apabila objek dan kejadian yang menjadi bahan pengajaran dapat divisualisasikan secara realistik menyerupai keadaan yang sebenarnya, namun tidaklah berarti bahwa media harus selalu menyerupai keadaan yang sebenarnya. Sebagai contoh adalah model. Model sekalipun merupakan gambaran nyata dari objek dalam bentuk tiga dimensi tidak dapat dikatakan realistik sepenuhnya. Sengguhpun demikian model sebagai media pengajaran dapat memberi makna terhadap isi pesan dari keadaan yang sebenarnya.
            Atas dasar teori tersebut, maka penggunaan media dalam pengajaran mempunyai kontribusi tinggi terhadap kualitas pengajaran. Sedangkan secara teoritis kualitas pengajaran akan memengaruhi kualitas hasil belajar yang dicapai oleh peserta didik.
Sumber Referensi:
  1. Agustina Zubair, dkk. 2011. Media dan Komunikasi Politik. Jakarta:Pusat Studi Komunikasi dan Bisnis Program Pasca Sarjana Universitas  Mercu Buana
  2. Daryanto. 2013. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Penerbit Gava  Media
  3. Nana Sudjana & Ahmad Rivai. 2010. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo
  4. http://www.Teori-teoriMedia_QOECHIL’sQUOTES

Tidak ada komentar:

Posting Komentar